PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT) berencana meningkatkan modal PT Waskita Toll Road (WTR) dengan menyerap saham baru yang diterbitkan anak usaha yang bergeara di bisnis jalan tol ini - Photo oleh WTR

JAKARTA (TheInsiderStories)PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT) berencana meningkatkan modal PT Waskita Toll Road (WTR) dengan menyerap saham baru yang diterbitkan anak usaha yang bergeara di bisnis jalan tol ini. WTR akan menerbitkan saham baru sebanyak 785.987 lembar saham dengan nilai Rp1,19 triliun.

Saat ini, kata Sekretaris Perusahaan Waskita Karya Shastia Hadiarti dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (14/7), perseroan merupakan pemegang saham WTR dengan porsi kepemilikan sebesar 80,56 persen. Pihaknya berkerpenting menyerap saham baru tersebut agar kepemilikan perseroan tidak terdilusi.

Pada awal tahun ini, manajemen Waskita Toll Road berencana divestasi empat ruas tol yang dikelolanya untuk ekspansi usaha dan melunasi kewajiban. Empat ruas yang akan dilepas sebagian adalah bagian dari proyek Trans Jawa, antara lain ruas tol Kanci – Pejagan, Pejagan – Pemalang, serta Pasuruan – Probolinggo.

WTR telah melepas 40 persen kepemilikannya di ruas tol Solo – Ngawi yang dioperasikan oleh PT Jasamarga Solo Ngawi dan sejumlah yang sama di ruas Tol Ngawi – Kertosono – Kediri yang dikelola oleh PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri ke Kings Key Limited, investor asal Hong Kong. Dari divestasi dua ruas ini, WTR mengantongi dana Rp2,5 triliun.

Pada 8 Mei lalu, Waskita Toll Road dalam keterangan di BEI, juga mengucurkan pinjaman sebesar Rp314,62 miliar kepada anak usahanya, yakni PT Waskita Transjawa Toll Road (39.49 persen). Pinjaman ini diharapkan bisa meningkatkan kinerja anak usahanya tersebut dan mampu mendorong kontribusinya ke WTR.

Tahun lalu, Waskita Karya telah menyuntikkan dana Rp1,19 triliun ke WTR) yang akan digunakan untuk kegiatan operasional unit usahanya tersebut. Uang tunai tersebut ditempatkan WTR ke unitnya PT Citra Waspphutowa (CW) dengan jumlah total Rp61 miliar.

CW memiliki 25 persen saham di Depok – konsesi jalan tol Antasari di Jawa Barat, bergabung dengan investasi milik negara yang memegang PT PP Tbk (IDX: PTPP) dan operator jalan tol yang terdaftar secara publik PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (IDX: CMNP). Kedua perusahaan masing-masing memegang 12,5 persen dan 62,5 persen.

“Modal awal untuk pembangunan jalan tol Depok – Antasari mencapai Rp1 triliun, tetapi kemudian meningkat menjadi Rp2,12 triliun,” jelas perusahaan tahun lalu.

Waskita Karya memiliki 80,56 persen saham WTR atau setara dengan Rp12,83 triliun, sedangkan saham lainnya dimiliki oleh PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri sebanyak 8,29 persen atau Rp1,32 triliun, dan PT Sarana Multi Infrastruktur 11,14 persen atau Rp1. 77 triliun.

Badan Pengatur Jalan Tol telah memerintahkan WTR bergabung dengan operator jalan tol milik negara lainnya, PT Hutama Karya dan Jasa Marga untuk membangun proyek jalan tol di Sumatera Utara. Proyek ini bernilai Rp13,4 triliun.

Proyek-proyek termasuk pembangunan jalan tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat, di Medan, Sumatera Utara dengan total biaya Rp9,6 triliun dan ditargetkan beroperasi pada 2020 dengan masa konsesi 40 tahun. Proyek jalan tol sepanjang 143,5 kilometer (km) ini merupakan kelanjutan dari jalan tol Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi sepanjang 61,72 km. Sebelumnya Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi telah selesai dan terhubung ke jalan tol Belawan – Medan – Tanjung Morawa.

Jalan tol ini akan terdiri dari enam ruas, yaitu ruas satu Tebing Tinggi – Inderapura (20,4 km), ruas dua Inderapura – Kuala Tanjung (15,6 km), ruas tiga Tebing Tinggi – Serbelawan (30 km). Kemudian, seksi empat Pemelawan – Pematang Siantar (28 km), seksi lima Pematang Siantar – Seribudolok (22,3 km), dan seksi enam Seribudolok – Parapat (16,7 km).

Jalan tol tersebut juga akan memiliki tujuh persimpangan di Inderapura, Tebing Tinggi, Serbelawan, Pematang Siantar, Seribudolok, Parapat, dan Simpang Susun Raya. Saat ini, Waskita memiliki 16 entitas bisnis jalan tol yang sudah beroperasi tetapi tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Sejauh ini, perusahaan masih menyuntikkan likuiditas ke unit melalui pinjaman atau modal, sekitar 70 persen dari kontrak. Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2020, perseroan memiliki total liabilitas Rp89,09 triliun. Kewajiban ini terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp40,11 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp49,89 triliun.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com