PT Bukit Asam Tbk (IDX: PTBA) mengincar pasar Brunei Darussalam untuk mengimbangi penuruan ekspor ke pasar tradisional seperti Cina dan India, kata juru bicara perusahaan hari Senin (14/7) - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Penambang batubara, PT Bukit Asam Tbk (IDX: PTBA) mengincar pasar Brunei Darussalam untuk mengimbangi penuruan ekspor ke pasar tradisional seperti Cina dan India, kata juru bicara perusahaan hari Senin (14/7). Lemahnya permintaan dari pasar dunia telah membuat volume penjualan perusahaan turun sebesar 20 persen dibandingkan tahun lalu.

Menurut Corporate Secretary perseroan, Apollonius Andwie, rendahnya permintaan juga menyebabkan harga batubara di pasar global anjlok. Perusahaan menargetkan untuk memproduksi 30 juta ton batubara di tahun ini. Jumlah tersebut naik 5,26 persen dari tahun lalu 28,5 juta ton.

Menurut Direktur Pemasaran Bukit Asam, Adib Ubaidillah mengatakan, bahwa produksi akan digunakan untuk memenuhi konsumsi domestik dan permintaan ekspor. Dia mengatakan, produsen listrik, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan menyerap 60 persen dari produksi dan sisanya akan mengekspor ke India, Taiwan, Pakistan, Bangladesh dan Thailand.

Penambang tersebut juga berharap dapat menjual 50 persen dari produknya langsung ke pengguna akhir tanpa dijembatani oleh pedagang perantara. Saat ini, sekitar 70 persen penjualan masih menggunakan perantara.

Saat ini, Bukit Asam telah menyelesaikan studi kelayakan proyek gasifikasi batubara. CEO perusahaa, Arviyan Arifin mengatakan, berdasarkan hasil studi kelayakan, Tanjung Enim akan menjadi lokasi proyek sebagai kesiapan infrastruktur dibandingkan dengan Peranap di Riau.

Dia berharap semua proses menargetkan selesai pada 2021. Proses pembangunan akan memakan waktu sekitar tiga tahun dan akan beroperasi pada 2024.

Arviyan menambahkan tidak hanya memproses batubara menjadi gas, tetapi Bukit Asam juga berniat memproduksi produk turunan lainnya yang menguntungkan perusahaan seperti metanol untuk bahan baku biodiesel. Dalam membangun pabrik tersebut, pihaknya akan bekerja sama dengan perusahaan plat merah lainnya, PT Pertamina dan investor AS, Air Products and Chemical.

Ketiga pihak telah sepakat untuk membangun perusahaan patungan dengan investasi AS$3,5 miliar (Rp50.05 triliun). Perusahaan patungan ini akan memproses produk hulu dan hilir. Dalam pemrosesan hulu, Air Production akan menjadi pemegang saham mayoritas sedangkan dalam pengolahan hilir, Bukit Asam akan menjadi pemegang saham mayoritas.

Pada tahun ini, produsen batubara tersebut mengalokasikan belanja modal sebesar Rp4 triliun untuk tahun ini. Penambang itu berencana menggunakan dana investasi untuk sejumlah proyek.

Perseroan akan mengerjakan proyek gasifikasi batubara, pengembangan transportasi batubara dan Mulut Tambang Sumsel 8 di proyek Muara Enim di Sumatera Selatan. Selain itu, perusahaan sedang dalam proses pengembangan dua proyek pembangkit listrik tenaga uap di daerah Muara Enim dan Halmahera Timur dengan total investasi $ 2,03 miliar.

Proyek ini sedang dibangun oleh PT Huadian Bukit Asam Power, sebuah konsorsium antara Bukit Asam dan China Huadian Hongkong Company Ltd. Proyek ini membutuhkan investasi $1,68 miliar, didanai oleh Exim Bank of China.

Selain itu, PTBA juga akan bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (IDX: ANTM) untuk membangun pembangkit listrik Feni di Halmahera Timur, Maluku Utara. Proyek pembangkit listrik yang memiliki kapasitas pembangkit listrik 3 × 60 megawatt (MW) dan pembangkit listrik diesel 3 × 17 MW. Proyek ini membutuhkan investasi sebesar $350 juta, yang dapat didanai oleh bank.

Indonesia menargetkan mampu mengekspor 400 juta ton batubara di tahun ini. Pada 31 Mei, hanya 175,15 juta ton yang telah terjual, turun 10 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

AS$1: Rp14,300

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com