PT Waskita Beton Precast Tbk (IDX: WSBP), anak usaha perusahaan konstruksi milik negara, PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT), menunda pembayaran bunga obligasi sesuai waktu yang telah ditentukan - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories)PT Waskita Beton Precast Tbk (IDX: WSBP), anak usaha perusahaan konstruksi milik negara, PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT), menunda pembayaran bunga obligasi sesuai waktu yang telah ditentukan. Pembayaran bunga seharusnya dilakukan hari ini.

Mengacu data Kustodian Sentral Efek Indonesia, obligasi tersebut diterbitkan tahun 2019 dengan jumlah pokok Rp1,5 triliun dengani kupon tetap 9,75 persen. Surat utang ini dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 31 Oktober 2019 dan akan jatuh tempo pada 30 Oktober 2022.

Waskita Beton menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir pasca ditangkapnya Direktur Utama perusahaan, Jarot Subana. Ia ditetapkan sebagai salah satu tersangka kasus subkontraktor fiktif dalam proyek-proyek yang terjadi di Waskita Karya, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lembaga penanganan korupsi tersebut sudah menahan lima tersangka kasus korupsi pekerjaan sub kontraktor fiktif dalam proyek-proyek yang terjadi di Waskita Karya pada Kamis (23/7). Diperkirakan negara dirugikan Rp186 miliar melalui proyek fiktif ini.

Baru-baru ini, PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menurunkan peringkat obligasi induk usaha perseroan, Waskita Karya, yang diterbitkan pada tahun 2015, 2016, dan 2017 dari “idA-” menjadi “idBBB +” karena masalah keuangan untuk melunasi kewajibannya.

“Dengan tidak lagi sepadan dengan peringkat idA-, serta harapan kami bahwa leverage keuangannya akan terus meningkat karena Waskita akan terus bergantung pada dana eksternal untuk modal kerja untuk melaksanakan simpanan kontrak dan investasi,” kata laporan itu.

Prospek untuk peringkat perusahaan ditetapkan pada posisi “negatif” untuk mengantisipasi pelemahan lebih lanjut dalam profil kredit karena lingkungan operasi yang menantang dan kejatuhan ekonomi yang disebabkan oleh COVID-19, terutama jika pandemi berlanjut, yang dapat menyebabkan peningkatan pembatasan juga karena operasi dan gangguan rantai pasokan, termasuk penundaan tender proyek baru.

Pada kuartal pertama (Q1) tahun 2020, kontrak baru perusahaan baru mencapai Rp3,2 triliun, turun 24 persen dibandingkan tahun lalu (YoY), sehingga menipiskan simpanan kontrak menjadi Rp52,5 triliun per Maret 31, 2020. Ini menyebabkan rasio pendapatan konstruksi sebesar 2,3x dalam YoY basis, turun dari rata-rata 3,6x pada 2015 – 2019.

Prospek negatif juga untuk mengantisipasi meningkatnya risiko pembiayaan kembali di tengah lingkungan kredit yang memburuk. Waskita memiliki obligasi senilai Rp2,5 triliun yang akan jatuh tempo pada Oktober 2020, yang diperkirakan akan dibiayai kembali menggunakan kas internal. Di Q1 2020, perusahaan memiliki saldo kas sebesar Rp6,1 triliun.

Waskita adalah salah satu perusahaan konstruksi terbesar di negara ini. Bisnis utamanya, menyediakan pekerjaan konstruksi, menyumbang 91 persen dari pendapatan pada 2019. Bisnis lainnya termasuk beton pracetak, jalan tol, properti, dan energi.

Perusahaan ini memiliki jaringan pemasaran domestik yang luas dengan 33 kantor pemasaran di seluruh negeri. Pemerintah Indonesia memegang 66 persen saham di Waskita pada tanggal 31 Maret 2020, dengan sisanya dimiliki publik.

Sementara, Waskita Beton bergerak dalam industri manufaktur beton precast dan ready mix. Perseroan mengerjakan berbagai proyek dalam bidang jalan tol, jembatan, gedung bertingkat tinggi dan revitalisasi sungai. Perseroan telah melakukan Penawaran Umum Perdana Saham di Bursa Efek Indonesia pada 20 September 2016 dengan melepas 10,54 miliar saham pada harga Rp490 per saham.

Dari pencatatan saham ini, perusahaan memperoleh dana segar Rp5,16 triliun dengan penjamin pelaksana emisi adalah PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT BNI Securities.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com