PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT) berencana untuk mendivestasi saham tiga jalan tol miliknya untuk melunasi hutang perusahaan yang semikin menumpuk, ujar direktur utamta kepada anggota parlemen pada hari ini (07/01) - Photo by President Office

JAKARTA (TheInsiderStories)PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT) berencana untuk mendivestasi saham tiga jalan tol miliknya untuk melunasi hutang perusahaan yang semikin menumpuk, ujar Direktur Utama kepada anggota parlemen pada hari ini (07/01). Perusahaan milik negara ini memiliki nilai total Rp89 triliun (AS$6,13 miliar) hingga tahun depan.

“Kami berharap [divestasi] akan dilakukan tahun ini, sehingga dapat mengembalikan ekuitas yang telah menurun,” kata Direktur Utama, Destiawan Soewardjono kepada anggota parlemen.

Mayoritas hutang ini, tambahnya, berasal dari proyek investasi yang didanai dengan berbagai pinjaman. Dia mengatakan, Waskita siap untuk melepaskan kepemilikannya di Jalan Tol Becak Kayu di Jakarta, Jalan Tol Kanci – Pejagan dan Pejagan – Pemalang di Jawa Tengah, juga untuk mengurangi porsinya di Jalan Tol Cibitung – Tanjung Priok menjadi minoritas.

Selain melepaskan sahamnya, perusahaan juga mempertimbangkan untuk meminta suntikan modal dari pemerintah gunamemperkuat ekuitas perusahaan. Hingga akhir Maret, posisi ekuitas pengembang tersebut tercatat senilai Rp27,27 triliun.

Selain itu, ia berharap pencairan piutang termasuk bailout tanah dan pembayaran proyek dari pemerintah dapat segera dilakukan untuk membantu operasinya, terutama manajemen arus kas. Sekarang, kata CEO, posisi tunai operasi Waskita berada dalam posisi negatif.

Tahun lalu, operator mengumumkan telah secara resmi melepaskan 40 persen kepemilikan di Jalan Tol Solo – Ngawi yang dioperasikan oleh PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) dan jalan tol Ngawi – Kertosono – Kediri yang dimiliki oleh PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri ke Kings Key Ltd. senilai Rp2,5 triliun. Setelah divestasi, komposisi dua jalan tol itu akan menjadi milik Kings Key 40 persen, PT Jasa Marga Tbk (IDX: JSMR) 40 persen dan PT Lintas Marga Jawa 20 persen.

Perusahaan induknya, Road King Infrastructure Ltd., bukan pemain baru dalam bisnis jalan tol. Perusahaan telah mengelola 340 kilometer jalan tol di China sejak 1993. Portofolio jalan tol tersebar di empat provinsi, Anhui, Shanxi, Hebei, dan Hunan.

Lima bagian yang dikelola oleh Road King adalah Jalan Tol Changsha – Yiyang (69 kilometer), Jalan Tol Ma’anshan – Chaohu (36 kilometer), Desa Yuci Longbai – Chengzhao (72 kilometer), Jalan Tol Baoding – Tianjin (105 kilometer), dan Tangshan – Tianjin Expressway (58 kilometer).

Sementara itu, Waskita telah menyuntikkan dana Rp1,19 triliun ke WTR. Modal tersebut akan digunakan untuk kegiatan operasional unit. WTR akan menempatkan uang tunai ke unitnya PT Citra Waspphutowa (CW) dengan jumlah total Rp61 miliar.

CW memiliki 25 persen saham di Depok – konsesi jalan tol Antasari di Jawa Barat, bergabung dengan investasi milik negara yang memegang PT PP Tbk (IDX: PTPP) dan operator jalan tol yang terdaftar secara publik PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (IDX: CMNP). Kedua perusahaan masing-masing memegang 12,5 persen dan 62,5 persen.

Waskita memiliki 80,56 persen saham WTR atau setara dengan Rp12,83 triliun, sedangkan saham lainnya dimiliki oleh PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (8,29 persen atau Rp1,32 triliun) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (11,14 persen atau Rp1,77) triliun).

Saat ini, pengembang memiliki 16 entitas bisnis jalan tol yang sudah beroperasi tetapi tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan. Sejauh ini, kata Soewardjono, perusahaan masih menyuntikkan likuiditas ke unit melalui pinjaman atau modal, sekitar 70 persen dari kontrak.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2020, Waskita memiliki total liabilitas Rp89,09 triliun. Kewajiban ini terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp40,11 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp49,89 triliun.

AS$1: Rp14.100

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com