Home TISIndonesia Vale Indonesia Memproyeksikan Ada Perlambatan Permintaan Nickel Dunia

Vale Indonesia Memproyeksikan Ada Perlambatan Permintaan Nickel Dunia

PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) memproyeksikan akan terjadi perlambatan, baik dari sisi permintaan maupun pasokan, seiring membaiknya harga komoditas di pasar global - Photo oleh Perseroan

JAKARTA (TheInsidersStories) – Produsen nikel, PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) memproyeksikan akan terjadi perlambatan, baik dari sisi permintaan maupun pasokan, seiring membaiknya harga komoditas di pasar global. Meski begitu, perseroan masih optimistis target produksi tahun ini bisa tercapai antara 71.000 – 73.000 ton nikel dalam mate dari tahun lalu 71.000 ton nikel dalam mate.

Hingga triwulan kedua (Q2) tahun ini, produksi penambang ini meningkat sekitar 6 persen dibandingkan dengan Q1 2020 sebesar 17.614 metrik ton nikel dalam matte. Dengan demikian, total produksi nikel pada H1 tahun ini tercatat 36.315 metrik ton nikel dalam matte dari tahun lalu sebesar 30.711 metrik ton nikel dalam matte.

“Produksi pada H1 2020 tercatat 18 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi pada H1 2019 yang disebabkan oleh periode shutdown yang lebih pendek di semester pertama tahun 2020,”  kata Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia, dalam pernyataan resminya.

Disampaikanya, pada H1 2019, perseroan melakukan shutdown terencana yang lebih panjang untuk kegiatan-kegiatan terkait dengan proyek Larona Canal Lining. Direktur Keuangan, Bernardus Irmanto menambahkan, perseroan melihat proyeksi industri masih konservatif kendati harga komoditas ini mulai naik.

“Dari sisi demand, di China ketersediaan stainless steel cukup tinggi dan tidak terserap sesuai yang kami harapkan. Jadi itu mengurangi proyeksi kebutuhan nikel di industri tersebut,” ujarnya.

Tak hanya itu, tuturnya, kondisi serupa terjadi pada industri kendaraan listrik yang tengah naik daun juga terjadi perlambatan serapan dan produksi dalam beberapa waktu ini lantaran dampak dari pandemi. Di tengah tekanan ini, perseroan berharap pertumbuhan permintaan dari China bisa memulihkan sektor ini.

“Kita harus melihat kembali dalam tiga bulan ke depan perkembangan COVID-19, baik dari sisi produsen dan konsumen yang akan mempengaruhi keseimbangan demand-supply di pasar nikel,” kata Bernardus.

Rudiantara Jadi Komisaris

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan perseroan hari ini, perusahaan menunjuk mantan Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014 – 2019. Rudiantara menjadi Wakil Presiden Komisaris dan Komisaris Independen perusahaan. Sebelumnya, jabatan ini diisi oleh Mahendra Siregar dan sudah mengundurkan diri sejak 25 Oktober 2019 karena menjadi wakil Menteri Luar Negeri.

Kini saham Vale Indonesia sudah dipegang oleh pemerintah melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (MIND ID) sebagai bagian dari amandemen Kontrak Karya yang diterbitkan tahun 2014. Perusahaan tambang milik negara itu resmi mengakuisisi 20 persen saham divestasi pada 19 Juni 2020 dari Vale Canada Ltd., (14.9 persen) dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd (5.1 persen) senilai Rp5.52 triliun.

Transaksi penjualan ini ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2020. Setelah selesainya transaksi, kepemilikan saham di Vale Indonesia akan berubah menjadi Vale Canada 44,3 persen, MIND ID 20 persen, SMM 15 persen, dan publik 20.7 persen.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com