PT Bank Tabungan Negara Tbk (IDX: BBTN) berencana melakukan sekuritasiasi aset senilai Rp2 triliun pada Agustus 2020 - Photo: Special

JAKARTA (TheInsiderStories) PT Bank Tabungan Negara Tbk (IDX: BBTN) berencana melakukan sekuritasiasi aset senilai Rp2 triliun pada Agustus 2020. Dalam penawaran kali ini, bank pelat merah itu juga menyasar investor ritel.

Menurut Direktur Keuangan, Perencanan dan Treasuri, Nixon LP Napitupulu, dalam konferensi pers virtual, Jumat (26/7), bagian ritel direncanakan sekitar 10 – 20 persen dari target tersebut. Dalam penerbitan kali ini pihaknya menggandeng lembaga keuangan milik pemerintah, PT Sarana Multigriya Finansial, serta PT Mandiri Manajemen Investasi.

Baru-baru ini, Bank Tabungan Negara telah berhasil meraup dana segar Rp1.5 triliun dari penawaran obligasi di pasar modal domestik. Nixon mengatakan dana hasil penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk melunasi obligasi jatuh tempo senilai Rp5,3 triliun pada tahun ini.

“(Nilai) obligasi ini sesuai dengan Rencana Bisnis Bank kami yang akan digunakan untuk memperkuat pengembangan bisnis pembiayaan perumahan,” kata Direktur Utama perseroan, Pahala Nugraha Mansury, dalam Investor Gathering penerbitan obligasi perseroan pada Juli 21.

Ia menjelaskan, Bank Tabungan Negara menawarkan obligasi Rupiah itu dalam sejumlah seri. Seri A dengan tenor 370 hari memiliki indikasi kupon sebesar 6,25 – 7,15 persen, Seri B dengan tenor 3 tahun memiliki indikasi kupon berkisar 7,40 – 8,40 persent dan Seri C dengan tenor 5 tahun menawarkan indikasi kupon di rentang 7,90 persen hingga 8,90 persen.

Baru-baru ini, pemerintah telah menempatkan dana Rp5 triliun ke bank negara tersebut. Pahala mengatakan, pihaknya akan mendistribusikan dana tersebut ke sektor perumahan dan konstruksi.

Selama kuartal pertama (Q1) 2020, pertumbuhan kredit Bank Tabungan Negara hanya tumbuh 4,59 persen menjadi Rp253,25 triliun, dari tahun lalu sebesar Rp242,14 triliun.

Adapun pendapatan bunga Rp6,17 triliun dan pinjaman Rp253,25 triliun, atau naik 4,59 persen dari Rp242,13 triliun pada Q1 2019. Laba bersih pemberi kredit itu turun 36,79 persen menjadi Rp457 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp723 miliar.

Awal tahun ini, pemeringkat global, Moody’s Investor Service mengkonfirmasi peringkat deposito jangka panjang lokal dan mata uang asing Baa2 dari bank milik negara tersebut. Pada saat yang sama, agensi tersebut telah menetapkan peringkat Ba3 subordinasi untuk modal Tier 2 dalam Dolar AS.

Moody’s berharap bahwa kualitas aset Bank Tabungan Negara akan tetap di bawah tekanan untuk 12-18 bulan ke depan, sebagai hasil dari kegiatan ekspansi pinjaman yang agresif sejak 2015 per program perumahan pemerintah. Selain itu, ekonomi domestik yang melambat akan membebani kemampuan layanan utang dari peminjam bank mengingat konsentrasinya di segmen berpenghasilan rendah dan menengah.

Namun, agensi tersebut berharap bahwa profitabilitas bank akan meningkat sedikit selama 12 – 18 bulan ke depan. Biaya pembiayaan bank juga akan berkurang setelah memotong persyaratan cadangan dan tingkat kebijakan bank sentral, dan mengikuti pelonggaran kondisi likuiditas.

Moody’s juga mengantisipasi pemulihan stabil dalam kapitalisasi bank dan tingkat pertumbuhan pinjaman yang moderat sekitar 6 persen untuk tahun 2020. Dikatakan, peringkat deposito jangka panjang Bank Tabungan Negara berada pada tingkat yang sama dengan pemerintah Indonesia. Mengingat prospek stabil pada peringkat negara, meningkatkan peringkat setoran bank tidak dimungkinkan.

Pada tahun 2012 dan 2013, bank tersebut telah menerbitkan obligasi Rp 4 triliun. Lalu pada periode 2015 dan 2016 meraup dana sebesar Rp6 triliun. Dan pada 2017 dan 2019 meraih total pendanaan sebesar Rp9,14 triliun.

Sejak 1989, Bank Tabungan Negara telah menerbitkan obligasi sebanyak 23 kali, termasuk yang terakhir adalah Junior Global Bond sebesar AS$300 Juta (Rp4.35 triliun) pada awal tahun ini.

US$1: Rp14,500

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com