Minister of state own enterprises (SOEs), Erick Thohir, aborted the formation of state-bank holding and chooses to sharpen the focus of each lender - Photo: Special

JAKARTA (TheInsiderStories) – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, membatalkan rencana pembentukan induk usaha bank plat merah dan memilih untuk mempertajam fokus dari setiap bank. Namun, dia siap untuk membentuk perusahaan induk bank Syariah di bawah kementeriannya.

Sebelumnya, pendahulunya, Rini Soemarno ingin membangun induk usaha sektor keuangan tetapi selama bertahun-tahun rencana itu tidak pernah terwujud karena terbentur aturan. Awalnya perusahaan induk ini akan dipimpin oleh perusahaan jasa keuangan dan manajemen investasi, PT Danareksa.

Perusahaan keuangan ini awalnya akan mengelola PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (IDX: BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (IDX: BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (IDX: BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (IDX: BBTN), PT Pegadaian , PT Permodalan Nasional Madani, dan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) untuk memudahkan komando dan pemantauan.

BPUI sekarang telah ditunjuk menjadi induk perusahaan asuransi dan dana pensiun milik BUMN. Menurut Thohir, saat ini hanya tiga bank milik negara yang memiliki fokus pasar yang jelas. Hanya Bank Negara Indonesia yang belum memiliki fokus bisnis yang kuat dan memilih untuk bersaing dengan Bank Mandiri di segmen korporasi.

“Saya berharap BNI (Bank Negara Indonesia) dapat menjadi sumber pendanaan internasional karena mereka memiliki sejumlah cabang di luar negeri,” kata menteri pekan lalu.

Dia menegaskan, kebutuhan bank internasional dengan bendera Indonesia berpotensi meningkat di masa depan. Selain itu, ada potensi untuk pengembangan dan ekspansi bisnis perusahaan di negara ini.

Selain mempertajam fokus dari empat perusahaan bank, ia juga berencana untuk menggabungkan bisnis unit syariah dan anak perusahaan syariah dari bank-bank BUMN. Saat ini, setidaknya ada tiga bank syariah milik bank BUMN, yaitu PT Bank BRI Syariah Tbk (BEI: BRIS), PT Bank Mandiri Syariah, PT Bank BNI Syariah dan satu unit di bawah Bank Tabungan Negara.

Dia berharap dengan merger ini akan menciptakan peringkat delapan bank syariah terbesar dalam skala aset dan memiliki kemampuan untuk mendanai pinjaman lebih besar lagi.

Dalam masa jabatannya yang pertama, Presiden Joko Widodo telah menugaskan Soemarno untuk menggabungkan BUMN di bawah enam perusahaan induk di berbagai sektor seperti pertambangan, minyak & gas, infrastruktur dan konstruksi, perumahan, jasa keuangan, juga makanan dan komoditas.

Sejauh ini, kementerian telah berhasil mendirikan empat perusahaan holding di pertambangan yang dipimpin oleh PT Indonesia Asahan Aluminium, holding minyak & gas di bawah produsen energi PT Pertamina, asuransi di bawah BPUI, dan farmasi di bawah PT Biofarma Tbk. Aturan dan administrasi yang rumit menjadi kendala pada langkah BUMN untuk menciptakan holding baru.

Ditulis oleh Staf Editorial, Email: theinsiderstories@gmail.com