Indonesia dan Turki sepakat untuk meningkatkan nilai perdagangan di sektor pertanian senilai AS$10 miliar (Rp145 triliun), kata Kementerian Pertanian dan Kehutanan negara tersebut pekan lalu - Photo by Genpi

JAKARTA (TheInsiderStories) – Indonesia dan Turki sepakat untuk meningkatkan nilai perdagangan di sektor pertanian senilai AS$10 miliar (Rp145 triliun), kata Kementerian Pertanian dan Kehutanan negara tersebut pekan lalu. Kesepakatan ini terjadi ketika Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bertemu dengan mitranya Menteri Pertanian dan Kehutanan Turki, Bekir Pakdemirli di Ankara.

Sebelumnya, ia melakukan kunjungan resmi untuk membahas kelanjutan kerja sama pertahanan antara kedua negara pada hari Rabu. Setelah mengunjungi Turki, Subianto telah dijadwalkan untuk mengunjungi India.

Awal Juli, menteri perdagangan, Agus Suparmanto mengatakan, bahwa negara sedang menjajaki mekanisme imbal dagang dengan beberapa mitra dagang untuk meningkatkan nilai ekspor. Beberapa komoditas yang siap diperdagangkan adalah minyak kelapa sawit, karet, mesin, kopi, kakao, teh, produk tekstil, alas kaki, ikan olahan, furnitur, buah-buahan, kopra, plastik, resin, kertas, dan rempah-rempah.

“Tujuan imbal dagang adalah untuk menyeimbangkan perdagangan antara Indonesia dan mitra dagang dan mendatangkan pendapatan devisa (ke negara),” kata Agus dalam sebuah pernyataan resmi pada July 17 lalu.

Dasar hukum untuk imbal dagang ini adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2014 tentang Mekanisme Pengembalian Perdagangan dalam Pengadaan Badan Hukum Asing, dan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2017 tentang Pembayaran Bersama dan Bagaimana untuk Mengirimkan Barang.

Kemudian, Keputusan Menteri Pertahanan Nomor 30 Tahun 2015 tentang Pengembalian Perdagangan, Isi Lokal, dan Offset dalam Pengadaan Alat dan Peralatan dari Keamanan Luar Negeri juga Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2019 tentang Ketentuan Pengembalian Pembelian untuk Pengadaan Barang-Barang Pemerintah yang Diimpor.

Agus mengungkapkan, manfaat imbal dagang adalah untuk mengatasi hambatan untuk tujuan ekspor dan memperluas area pasar dan produk baru, menyediakan tambahan ekspor, menghemat devisa, dan untuk mengatasi kesulitan dalam impor karena keterbatasan valuta asing .

“Dengan skema imbal dagang ini, ekspor Indonesia diharapakan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Tahun lalu, pemerintah telah mengusulkan untuk menukar pembelian Indonesia Fighter Xperiment (KFX / IFX) dengan pesawat CN-235 negara yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia yang menyebabkan negara tersebut memiliki dana terbatas untuk membayar dengan uang tunai. Perusahaan milik negara ini bekerja sama dengan Construcciones Aeronáuticas SA (CASA).

Indonesia juga menggunakan skema yang sama ketika membeli 11 jet tempur buatan Rusia, Sukhoi SU-35 pada tahun 2017. Negara ini menukar pembelian armada dengan minyak kelapa sawit, karet, kopi, kakao, teh, tekstil, dan barang-barang lainnya, dengan total berjumlah $1,14 miliar.

Total dana untuk proyek jet fighter hingga 2026 direncanakan sekitar $8 miliar, dibagi antara Korea Selatan (80 persen) dan Indonesia (20 persen). Negara ini telah membayar 132 miliar Won ($ 112,34 juta) ke Korea Selatan sebagai kontribusi 2016 untuk pengembangan program pesawat tempur KF-X.

US$1: Rp14,500

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com