Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pertumbuhan kredit perbankan nasional pada tahun ini hanya 4 persen, jauh dari perkiraan awal tahun tumbuh 11 persen - Photo: Special

JAKARTA (TheInsiderStories) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pertumbuhan kredit perbankan nasional pada tahun ini hanya 4 persen, jauh dari perkiraan awal tahun tumbuh 11 persen. Hal ini didasari perkembangan realisasi kredit dalam beberapa bulan terakhir dan mempertimbangkan perubahan rencana bisnis dari perbankan nasional tahun ini.

Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso penyaluran krediit perbankan tahun ini memang terkendala besar saat pandemi Covid-19 yang menghantam hampir semua sektor. Hal itu, ujarnya, tercermin dari pertumbuhan kredit perbankan pada Mei 2020 yang hanya tumbuh 3,04 persen secara tahunan (YoY) atau melambat dibandingkan bulan sebelumnya pada kisaran 5,73 persen.

Meski melambat, ia optimistis kredit perbankan akan berangsur membaik dan mulai normal pada awal tahun 2021. OJK mencatat, profil risiko perbankan pada Maret 2020 masih terjaga pada level yang terkendali dengan rasio pinjaman bruto tercatat sebesar 2,77 persen dan bersih 0,98 persen.

Wimboh mengatakan, pihaknya optimistis kredit macet perbankan juga masih dapat dijaga pada kisaran di bawah 3 persen seiring dengan pemberlakuan restrukturisasi kredit. Berdasarkan catatan OJK, kondisi rasio kecukupan modal perbankan hingga Mei 2020 juga masih tetap aman di angka 22,14 persen.

Tahun lalu, regulator mencatat stabilitas pembiayaan bank melalui pembelian instrumen sekuritas menunjukkan peningkatan 15,8 persen dibanding tahun lalu atau senilai Rp97 triliun dan pembiayaan luar negeri dari kantor perwakilan bank asing juga mencapai peningkatan 133,6 persen ke Rp130,4 triliun. Keseluruhan pembiayaan bank tumbuh sekitar 9 persen atau Rp549,6 triliun.

Pertumbuhan kredit didominasi oleh bank BUKU IV yang tumbuh 7,8 persen, BUKU III sebesar 2,4 persen, BUKU II sebesar 8,4 persen, dan BUKU I sebesar 6,4 persen. Berdasarkan kepemilikan, pinjaman bank milik negara tumbuh 8,5 persen, lebih rendah dari tahun sebelumnya 14,1 persen, sementara pinjaman bank swasta tumbuh 4,3 persen dari 9,4 tahun sebelumnya, dan pinjaman bank pembangunan daerah tumbuh 10,2 persen dari 8,0 persen pada 2018.

Pertumbuhan kredit didukung oleh sektor konstruksi 14,6 persen diikuti oleh sektor rumah tangga 6,6 persen. Dengan demikian, pinjaman investasi meningkat 13,2 persen, yang menunjukkan potensi pertumbuhan sektor riil di masa depan. Pertumbuhan diikuti oleh profil risiko kredit yang terjaga. Rasio Kecukupan Modal mencapai 23,3 persen dan likuiditas cukup dengan loan to deposit ratio 93,6 persen.

Margin bunga bersih tercatat turun menjadi 4,9 persen, dari 5,1 persen pada 2018 dan rata-rata suku bunga kredit terus menurun dari 10,8 persen pada 2018 menjadi 10,5 persen tahun lalu. Penurunan ini cukup signifikan di tengah kebijakan dan suku bunga deposito yang naik pada 2019.

Ditulis oleh staff editor, Email: theinsiderstories@gmail.com