Fitch Ratings revised down Indonesia’ economic growth forecasts from 5.1 percent to 4.8 percent in 2020 amid the COVID-19 outbreak, it said on Thursday (03/19) - Photo: Special

JAKARTA (TheInsiderStories) – Lembaga rating global Fitch Ratings menilai sektor industri keuangan Indonesia semkain lemah karena gagal dalam hal tata kelola sehingga meningkatkan risiko bagi nasabah dan juga kepentingan investor.

Kelemahan tata kelola ini cenderung diperbesar lagi dengan kondisi ekonomi yang suram akibat dampak dari pandemi COVID-19. Pada akhirnya kondisi ini dapat memicu risiko degradasi terkait dengan tata kelola dan berpotensi meningkatkan kerugian bagi investor dalam waktu dekat.

Fitch dalam laporann terbarunya Senin (07/06) menilai, sebagian besar kegagalan tata kelola ini berasal dari sektor lembaga keuangan non-bank (IKNB). Fitch menilai IKNB tidak diatur secara ketat seperti sektor perbankan Indonesia, meskipun ada beberapa penguatan regulasi dan pengawasan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun faktanya, terjadi gagal bayar atau default berkaitan dengan produk-produk investasi berjangka dengan imbal hasil tinggi yang dipasarkan oleh perusahaan asuransi, koperasi, dan perusahaan aset manajemen (manajer investasi) kepada masyarakat umum.

Produk-produk ini biasanya ditawarkan kepada nasabah dengan tawaran return atau yield di atas suku bunga pasar, dan sering dijual kepada pelanggan atau investor ritel melalui kanal bancassurance atau agen penjual pihak ketiga.

Media lokal melaporkan bahwa gagal bayar terkait dengan tata kelola telah mengakibatkan kerugian hingga US$3,5 miliar atau setara dengan Rp49 triliun kepada investor sejak 2018.

Kasus paling terkenal adalah perusahaan asuransi milik negara PT Asuransi Jiwasraya yang nilai gagal bayar sejak Oktober 2018 diperkirakan menembus US$1, 2 miliar atau Rp16,8 triliun. Nilai ini termasuk estimasi simpanan atau polis nasabah yang belum dibayarkan, potensi kerugian negara, dan ditambah dengan kasus dugaan korupsi yang kini berjalan di pengadilan.

Gagal bayar Jiwasraya ini terjadi tak lama setelah PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance), perusahaan pembiayaan yang dituduh melaporkan piutang fiktif dan gagal membayar utang dengan total sekitar $300 juta.

Belum lagi ditambah gagal bayar Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta (Koperasi Indosurya) yang belum membayar kembali sekitar US$1 miliar dana simpanan nasabah, dan menjadi nilai terbesar dari sejumlah kasus serupa di LKNB (lembaga keuangan non-bank) lainnya pada akhir 2019 dan kuartal I-2020.

“Sektor perbankan Indonesia belum mengalami gagal bayar baru-baru ini sebagai akibat dari kegagalan tata kelola perusahaan, sementara Fitch melihat tata kelola di sektor ini terus tertinggal dari pasar yang lebih maju,” kata Roy Purnomo, Associate Director PT Fitch Ratings Indonesia.

Penilaian Fitch tentang tata kelola perusahaan lembaga keuangan mempertimbangkan efektivitas dewan pengawas secara kolektif – termasuk penilaian kecukupan keahlian, sumber daya, kemandirian dan kredibilitas untuk secara efektif mengawasi manajemen – kualitas pelaporan keuangan dan audit, kompleksitas kelompok struktur, dan sifat dan ruang lingkup transaksi pihak-pihak terkait.

“Soal pihak terkait dapat meningkatkan risiko penularan ketika ada pertanyaan seputar tata kelola. Misalnya, kami yakin tuduhan terhadap Koperasi Indosurya telah mencoreng waralaba dan reputasi perusahaan terkait PT Indosurya Inti Finance (rating B + (idn)/Rating Watch Negative) walaupun struktur hukumnya terpisah,” katanya.

US$1=Rp14,000

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com