Ekonomi Tiongkok tumbuh 3,2 persen pada kuartal kedua (Q2) tahun 2020 dari tahun sebelumnya, Biro Statistik Nasional melaporkan pada Kamis (16/07) - Photo: Special

JAKARTA (TheInsiderStories)Ekonomi Tiongkok tumbuh 3,2 persen pada kuartal kedua (Q2) tahun 2020 dari tahun sebelumnya, Biro Statistik Nasional melaporkan pada Kamis (16/07). Produk domestik bruto (PDB) di kuarlta yang sama tumbuh sebesar 11,5 persen secara triwulanan.

Pertumbuhan ini pulih dari kuartal pertama turun 6,8 persen dibandingkan tahun lalu (YoY) atau terkontraksi sejak 1992. Kantor biro tersebut mengatakan, pada H1 2020, ekonomi terbesar kedua dunia itu dihadapkan dengan tantangan serius yang ditimbulkan oleh COVID-19.

Tetapi dengan berbagai upaya, ekonomi nasional bergeser dari melambat menjadi naik pada paruh pertama tahun 2020 dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua berubah dari indikator negatif ke positif dan utama yang menunjukkan pertumbuhan restoratif. Menurut perkiraan awal, produk domestik bruto (PDB) Tiongkok adalah RMB45.661,4 miliar (Rp955.35 triliun) pada 1H 2020, dimana terjadi penurunan sebesar 1,6 persen dari tahun lalu.

Nilai tambah industri utama adalah RMB2, 605,3 miliar atau naik 0,9 persen YoY, industri sekunder adalah RMB17.275,9 miliar menurun 1,9 persen YoY, dan industri tersier adalah RMB25.780,2 miliar turun 1,6 persen YoY. Sementara, produksi industri pulih menjadi 4,4 persen di Q2 dari kuartal sebelumnya turun 8,4 persen.

Biro juga melaporkan dalam H1, nilai total impor dan ekspor barang adalah RMB14.237,9 miliar, turun 3,2 persen dari tahun lalu dan 3,3 poin persentase lebih lambat dari kuartal pertama. Pada kuartal kedua, nilainya turun 0,2 persen dari pada kuartal pertama turun 6,5 persen.

Nilai total ekspor adalah RMB7.713,4 miliar, turun 3,0 persen dari 2019, dan total nilai impor adalah RMB6,524,5 miliar, turun 3,3 persen YoY. Neraca perdagangan surplus RMB1.188,9 miliar.

Harga konsumen naik 3,8 persen YoY, 1,1 poin persentase lebih rendah dari pada 1Q. Biro menyatakan, umumnya ekonomi nasional menunjukkan momentum pertumbuhan restoratif dan pemulihan bertahap.

“Namun, kita juga harus menyadari bahwa beberapa indikator masih dalam penurunan dan kerugian yang disebabkan oleh epidemi perlu dipulihkan. Mengingat penyebaran epidemi secara terus-menerus secara global, dampak besar epidemi yang berkembang pada ekonomi global dan yang nyata meningkatnya risiko dan tantangan eksternal, pemulihan ekonomi nasional masih di bawah tekanan, “kata pernyataan itu.

Seperti diketahui, pemerintah Cina telah meluncurkan serangkaian langkah-langkah, termasuk lebih banyak pengeluaran fiskal, keringanan pajak dan pemotongan suku bunga pinjaman dan persyaratan cadangan bank untuk menghidupkan kembali ekonomi yang dilanda virus dan mendukung pekerjaan. Presiden Cina Xi Jinping mengatakan fundamental pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang sehat di Cina tidak akan berubah.

RMB1: Rp2,092.27

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com