Indonesian inflation data out today, after experienced deflation for two months, in September, the country is estimating to post an inflation in a low level. - Photo by Badan Pusat Statistik Office

JAKARTA (TheInsiderStories)Surplus perdagangan Indonesia meningkat menjadi AS$1,27 miliar (Rp18.03 triliun) pada Juni 2020, meningkat dari $0,30 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya, kata Badan Pusat Statistik pada hari ini (07/15). Itu adalah bulan kedua berturut-turut negara itu membukukan surplus dalam neraca perdagangan, didukung oleh ekspor yang naik sementara impor mengalami penurunan.

Realisasi itu tercatat lebih rendah daripada surplus $2,09 miliar pada Mei, tetapi lebih tinggi dari surplus $200 juta pada Juni 2019. Secara total, neraca perdagangan negara itu mencatat surplus $5,5 miliar pada Januari-Juni. Angka itu lebih baik daripada defisit $1,93 miliar pada periode yang sama pada 2019.

Surplus perdagangan didukung oleh nilai ekspor $12,03 miliar, naik 15,09 persen dari $10,45 miliar pada bulan sebelumnya, sementara nilai impor tercatat $10,76 miliar, naik 27,56 persen dari Mey. BPS merinci nilai ekspor naik 2,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar $11,76 miliar. Angka tersebut juga meningkat dari kontraksi -26,95 persen di bulan sebelumnya.

“Ini adalah tren yang sangat menggembirakan dan kami berharap ini akan berlanjut di bulan-bulan mendatang,” kata kepala BPS Suhariyanto kepada media melalui konferensi video.

Secara rinci, kinerja ekspor didukung oleh minyak dan gas sebesar $580 miliar, naik 3,8 persen dari bulan sebelumnya. Sementara kinerja non-migas mencapai $11,45 miliar, meningkat 15,73 persen. Peningkatan ini didukung oleh harga minyak mentah yang naik 42,9 persen menjadi $36,6 per barel pada Juni. Demikian juga, harga komoditas ekspor non-migas juga naik termasuk minyak kelapa sawit, karet, dan biji-bijian.

Peningkatan ekspor non-migas disumbangkan oleh industri pertanian sebesar 18,99 persen menjadi $280 miliar, industri manufaktur naik 15,96 persen menjadi $9,6 miliar, dan industri pertambangan 13,69 persen menjadi $1,51 miliar. Secara total, kinerja ekspor non-migas masih bertahan sekitar 95,16 persen dari total ekspor Indonesia bulan lalu.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor paling banyak dikirimkan ke India senilai $307,6 juta, Amerika Serikat $278,4 juta, Cina $217,7 juta, Jepang $163 juta, dan Singapura $137,3 juta. Ekspor Indonesia mengalami penuruan di Korea Selatan senilai $59,6 juta, Hong Kong $52,4 juta, Spanyol $51,3 juta, Taiwan $41,5 juta, dan Irak $16,3 juta. Secara kumulatif, ekspor dari Januari hingga Juni tercatat sebesar $76,41 miliar, turun 5,49 persen dari $80,85 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Impor, sebaliknya, didukung oleh minyak dan gas yang mencapai $680 juta miliar, tumbuh 2,98 persen dari bulan sebelumnya. Sementara impor non-migas tercatat $10,09 miliar, naik 29,64 persen dari bulan sebelumnya.

Peningkatan impor non-migas berasal dari barang-barang konsumsi yang mencapai 51,1 persen menjadi $1,41 miliar. Komoditas yang nilai impornya tinggi berasal dari bawang putih, daging beku, obat-obatan, dan pir. Kemudian, impor barang mentah naik 24,01 persen menjadi $7,58 miliar. Secara struktural, impor didominasi oleh barang mentah yang mencapai 70,39 persen dari total impor.

AS$1=Rp14,200

Ditulis oleh Lexy Nantu, Email: lexynantu@theinsiderstories.com