PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (IDX: TELE) dan empat anak usahanya, PT Telesindo Shop, PT Simpatindo Multi Media, PT Perdana Mulia Makmur dan PT Poin Multi Media Nusantara, terancam pailit setelah resmi mengantongi status dalam keadaan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sementara - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Perusahaan peritel ponsel dan voucher, PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (IDX: TELE) dan empat anak usahanya, PT Telesindo Shop, PT Simpatindo Multi Media, PT Perdana Mulia Makmur dan PT Poin Multi Media Nusantara, terancam pailit setelah resmi mengantongi status dalam keadaan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara.

Status ini dinyatakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, pada hari ini (8/7). Pengajuan PKPU di PN Jakarta Pusat itu dilakukan oleh PT Rancang Bangun Pundinusa.

Menurut Direktur Tiphone Mobile, Meijaty Jawidjaja, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, perusahaan mengalami gagal bayar atas hutang obligasi maupun utang bank sindikasi. Nilai total hutang pokok yang gagal dibayar oleh perusahaan tercata senilai Rp3,23 triliun.

Perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi pada Jumat, 17 Juli 2020, pukul 10.00 di Telesindo Tower, Gajah Mada Jakarta Barat. Dalam pertemuan ini perusahaan berharap bisa menemukan titik temu dari permasalahan hutang tersebut.

Awal tahun ini, Tiphone Mobile menyatakan masih mengantongi hasil penerbitan obligasi sebesar Rp1,4 triliun yang akan digunakan untuk refinancing hutang obligasi yang telah jatuh tempo itu. Selain itu, perusahaan ritel ini juga mempertimbangkan untuk menerbitkan saham baru.

Menurut Sekretaris perusahaan, Semuel Kurniawan, pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan investor dari China terkait rencana tersebut. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2019, total utang obligasi yang akan jatuh pada tahun 2020 seluruhnya mencapai Rp539,02 miliar.

Sementara, total kas dan setara kas Tiphone Mobile tercatat sebesar Rp1,07 triliun, melampaui jumlah yang jatuh tempo pada tahun ini. Ditegaskannya, “Kami tidak bisa pesimistis dengan kinerja tahun ini, namun realistis dengan kondisi yang ada, misalnya adanya virus corona ini. Yang terpenting adalah upaya yang dilakukan untuk melunasi obligasi.”

Peritel ini didirikan pada 25 Juni 2008 untuk menjawab kebutuhan industri telekomunikasi seluler di Indonesia. Perusahaan bergerak dalam saluran distribusi telekomunikasi, seperti ponsel dan bagian-bagiannya, voucher isi ulang dan layanan perbaikan.

Pada tahun 2010, TELE memperluas bidang usahanya untuk memperbaiki layanan ponsel dan penyedia aplikasi dan konten ponsel dengan mendirikan dua anak perusahaan, yaitu PT Setia Utama Service dan PT Setia Utama Media Aplikasi.

Pada awal 2011, Perusahaan terus melakukan akuisisi dua perusahaan, yaitu Telesindo Shop, yang bergerak di bidang ritel dan outlet, dan PT Excel Utama Indonesia, yang merupakan dealer dan distributor nasional PT XL Axiata Tbk (IDX: EXCL) .

Dalam kartu sim prabayar baru dan bisnis penjualan voucher isi ulang, perusahaan membentuk kemitraan dengan PT Telekomunikasi Seluler dan Telkom Flexi yang merupakan bagian dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (IDX: TLKM), dan XL Axiata.

Untuk mendukung semua lini bisnis perusahaan dan mempercepat pertumbuhan, pada Januari 2012 Tiphone mendaftarkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 2014, PT PINS Indonesia, anak perusahaan Telkom Group, telah menjadi salah satu pemegang saham perusahaan.

AS$1: Rp14.300   

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com