Indonesian Rupiah falls 1.35 percent on Wednesday as investors concerned over Bank Indonesia’ independency - Photo: Special

JAKARTA (TheInsiderStories) – Mata uang Rupiah turun hampir 2 persen pada hari Jumat, penurunan mingguan terbesar sejak Maret, karena kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi COVID-19 meningkat. Mata uang lokal tersebut melemah lebih dari 2,6 persen dalam minggu ini, juga penurunan mingguan terbesar sejak pertengahan Maret lalu.

Kemarin, Gugus Tugas Penanganan COVID-19 mengumumkan sebanyak 1.624 kasus positif baru, peningkatan tertinggi dalam satu hari sejak kasus pertama muncul pada awal Maret, menjadikan jumlah total infeksi secara nasional menjadi 59.394. Laporan harian menunjukkan bahwa 53 orang lagi meninggal karena penyakit, yang menjadikan jumlah kematiannya 2.987 pada hari yang sama.

“Tekanan terhadap Rupiah selama minggu ini disebabkan oleh faktor domestik seperti ketakutan akan gelombang kedua infeksi COVID-19,” kata deputi gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo dalam sebuah seminar yang digelar hari ini.

Pada hari ini, mata uang Indonesia dibuka di posisi 14.305 per Dolar AS, imbal hasil obligasi negara 10 tahun di level 7,19 persen, menurut data BI yang dirilis hari ini (07/03). Sementara itu, Credit Default Swaps Indonesia bertenor lima tahun turun menjadi 121,68 basis poin.

BI juga menyampaikan, berdasarkan survei pada minggu pertama Juli, inflasi bulanan diperkirakan 0,04 persen atau lebih rendah dari bulan sebelumnya di level 0.08 persen. Dengan kemajuan ini, perkiraan inflasi untuk Juli 2020 di tahun kalender adalah 1,13 persen dan secara tahunan adalah 1,69 persen.

Kontributor utama inflasi termasuk telur komoditas 0,06 persen, ayam 0,03 persen, perhiasan emas 0,02 persen, dan rokok kretek filter 0,01 persen. Sementara, komoditas utama yang memberikan sumbangan deflasi adalah bawang merah sebesar -0,06 persen, bawang putih dan jeruk masing-masing sebesar -0,02 persen, serta cabai merah, minyak goreng, lada merah, gula pasir dan transportasi udara masing-masing -0,01 persen.

Ditulis oleh Lexy Nantu, Email: lexynantu@theinsiderstories.com