PT PP Tbk (IDX: PTPP), berniat menghentikan sejumlah proyek akibat dari pandemi COVID-19 yang menghantam hampir seluruh sektor ekonomi, termasuk bisnis konstruksi dan properti - Photo by the Company

JAKARTA (TheInsiderStories) – Perusahaan pengembang plat merah, PT PP Tbk (IDX: PTPP), berniat menghentikan sejumlah proyek akibat dari pandemi COVID-19 yang menghantam hampir seluruh sektor ekonomi, termasuk bisnis konstruksi dan properti. Hingga 15 Juli 2020 terdapat 16 proyek dalam status melambat, sembilan proyek dalam status lockdown dan enam proyek dalam status diberhentikan sementara.

Menurut Yuyus Juarsa, Sekretaris perusahaan, akibat penghentian tersebut, pendapatan perusahaan diperkirakan akan terkoreksi hingga 50 persent dari tahun lalu Rp24,66 triliun. Penurunan laba bersih perseroan juga diperkirakan akan melebihi 75 persen dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar Rp1.5 triliun.

Penurunan kinerja ini, ujarnya akan berdampak pada kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban pokok utang. Saat ini, PTPP memiliki total nilai kewajiban sebesar Rp 1,63 triliun.

Dikatakannya, perseroan akan menempuh sejumlah strategi untuk mengatasi permasalahan ini. Selain itu, badan usaha milik negara ini akan melakukan mitigasi khusus untuk operasional dan keuangan serta melakukan stress test terkait kinerja keuangan untuk memproyeksikan kinerja sampai dengan akhir tahun 2020.

Sebelum COVID-19 melanda, PTPP menganggarkan belanja modal sebesar Rp6,5 triliun, terdiri dari pembiyaan perbankan, lembaga keuangan lain atau mitra strategis, dan berasal dari kas perusahaan. Baru-baru ini, perusahaan telah menandatangani kerjasama pembangunan jalan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Nusa Tenggara Barat dengan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC).

Proyek pembangunan jalan yang bernilai Rp900 miliar dimiliki langsung oleh ITDC di mana pembiayaannya menggunakan skema Pre-Financed Project. Pembiayaan pembangunan proyek tersebut juga didukung oleh anggota bank-bank milik negara yang tergabung dalam HIMBARA.

Pembangunan jalan ini nantinya akan digunakan untuk penyelenggaraan MotoGP Indonesia yang akan berlangsung pada tahun 2021 mendatang. Proyek ini merupakan bagian dari Kawasan Sirkuit Mandalika yang dibangun di atas lahan seluas 52,5 hektar di dalam Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas The Mandalika.

Selain itu, kontraktor tersebut mengelola beberapa proyek seperti dua pembangkit listrik tenaga uap di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara dengan total biaya Rp8 triliun. Kapasitas setiap pembangkit listrik tenaga uap adalah 2 × 50 megawatt (MW).

Pembangkit listrik tenaga uap pertama dilakukan di atas lahan seluas 30 hektar di Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur. Pembangkit listrik tenaga uap kedua dibangun di atas lahan 32 hektar di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

PTPP optimis untuk menyelesaikan proyek pertama di Kupang Barat dalam tiga tahun dan di Bolaang Mongondow dalam 39 bulan. Juga diharapkan dua pembangkit listrik tenaga uap akan siap beroperasi pada tahun 2022, sehingga akan dapat melistriki beberapa desa dan kecamatan di wilayah tersebut.

Perseroan juga menjadi kontraktor untuk pembangunan smelter nikel ferro yang berlokasi di Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan total investasi Rp14,5 triliun. Kontraktor telah menandatangani kontrak untuk membangun smelter dengan PT Ceria Nugraha Indotama sebagai investor pada bulan April 2019.

Perusahaan akan bekerja sama dengan konsorsium ENFI China untuk membangun proyek smelter itu. Manajemen mengatakan bahwa proyek untuk membangun smelter fero nikel akan membutuhkan investasi sebesar Rp4 triliun pada tahap pertama. Pabrik ini memiliki kapasitas total 4 × 72 MVA dan menargetkan untuk beroperasi pada tahun 2021 dan produksi 229.000 ton nikel ferro per tahun.

PTPP juga berencana menjual sebagian kepemilikannya di tiga konsesi jalan tol, yaitu jalan tol Pandaan – Malang di Jawa Timur (35 persen), jalan tol Kualanamu – Tebing Tinggi (15 persen) dan Pelabuhan Kuala Tanjung (25 persen) di Korea Utara. Sumatera.

Pengembang mengharapkan untuk mendapatkan sekitar Rp500 miliar dari penjualan ekuitas. Selain itu, perusahaan juga mengincar proyek konstruksi di Filipina dan proyek pengembangan pelabuhan di Malaysia senilai Rp2 triliun, setelah mendapatkan proyek di Vietnam dengan nilai Rp500 miliar.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com