Pemerintah Indonesia memutuskan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 hingga 5.2 persen dari produk domestik produk (PDB) dari target awal 4.17 persen dari PDB - Photo oleh Kementerian Keuangan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Pemerintah Indonesia memutuskan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 hingga 5.2 persen dari total produk domestik produk (PDB) dari target awal 4.17 persen dari PDB. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, usai rapat terbatas hari ini melalui virtual dipimpin Presiden Joko Widodo.

“Design APBN dari 2021 (yang kita siapkan) bagaimana kita menghadapi ketidakpastian ini dan penanganan COVID-19 berjalan dengan baik. Dan dalam rapat terbatas hari ini presiden memutuskan defisit APBN diperlebar menjadi 5.2 persen dari PDB,” ujarnya dalam konferensi pers virtual hari ini (28/7). 

Ditambahkannya, cadangan belanja negara dialokasikan Rp179 triliun (14.3 persen dari total PDB) dan akan dialokasikan untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), terutama untuk ketahanan pangan, pembangunan kawasan industri yang didukung oleh infrastruktur, informasi dan teknologi untuk pemerataan interner, pendidikan, kesehatan, serta biaya vaksin.

Menurut Sri Mulynai. pertumbuhan ekonomi di Indonesia diperkirakan akan pulih ke level 0.4 persen dari PDB pada kuartal 3 (Q3) 2020 dan pada Q4 naik menjadi 3 persen. “Kalau itu terjadi perekonomian kita akan tatep di zona positif,” tandasnya.

Sebelumnya ia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jatuh ke level -5,1 persen dari PDB pada kuartal kedua (Q2) tahun 2020 karena pandemi COVID-19. Pada Q1 tahun ini, pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu turun menjadi 2,97 persen dari tahun sebelumnya.

Dikatakannya, tren penurunan ekonomi global bertransmisi dengan cepat ke perekonomian nasional dan menyebabkan gangguan pada sisi permintaan dan penawaran negeri tersebut. Seperti diketahui, pemerintah menggunakan APBN 2020 sebagai instrumen utama untuk mengatasi dampak dari epidemi dan untuk program PEN.

Menteri Keuangan menilai dampak terdalam dari virus itu terjadi pada bulan Mei dan akan meningkat pada Q3 dan Q4. Pada akhir tahun ini, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berakhir di kisaran -0,4 persen hingga 2,7 persen dari PDB. pada 2019, ekonomi terbesar di Tenggara itu berakhir di 5,0 persen dari PDB.

“Dengan dinamika yang terjadi di Indonesia pada kuartal kedua, perekonomian kita akan cukup tertekan dan akan ada koreksi dan kita dapat meminimalkannya di kuartal berikutnya,” kata Indrawati saat dengar pendapat dengan Badan Anggaran DPR RI, Juli 9.

Kementerian Keuangan melaporkan pada semester pertama (1H) tahun 2020 realisasi defisit anggaran sebesar 1,57 persen dari PDB, sejalan dengan penurunan pendapatan negara karena perlambatan ekonomi. Sementara, pengeluaran pemerintah masih tumbuh positif untuk mendukung penanganan dampak COVID-19.

Kementerian menambahkan, pertumbuhan ekonomi pada semester kedua diharapkan membaik dan stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Untuk itu, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan dapat tumbuh secara positif dengan dukungan program PEN. Program stimulus juga diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat di semester ini ditopang oleh investasi.

Namun, perdagangan internasional diperkirakan masih kontraksi karena permintaan global yang rendah. Sementara itu, inflasi akan meningkat secara bertahap ketika konsumsi pulih. Inflasi pangan relatif terkendali, tetapi masih ada risiko fluktuasi harga pangan selama penanaman.

Selain itu, kata bendahara negara itu, Rupiah diperkirakan akan menguat sejalan dengan stabilitas makroekonomi dan aliran masuk modal ke negara tersebut, tetapi tetap waspada terhadap risiko volatilitas pasar keuangan global. Kemudian, harga minyak masih berfluktuasi karena pengaruh penawaran dan permintaan global dan faktor geopolitik.

Sementara, lifting minyak dan gas akan dioptimalkan untuk mencapai target dengan mempertahankan ekonomi area kerja, efisiensi biaya, dan mengusahakan agar proyek-proyek minyak dan gas streaming pada tahun 2020 berjalan tepat waktu.

Seperti diberitakan, berbagai lembaga internasional memberikan berbagai proyeksi tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang menunjukkan ketidakpastian yang tinggi, terutama pada tahun 2020. Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi Indonesia sebesar -0,3 persen dan Bank Dunia menyebutkan pertumbuhan nol. OECD juga memproyeksikan ekonomi Indonesia berada pada – 3,9 hingga -2,8, sementara ADB memproyeksikan -1 persen.

Ditulis oleh Staf Editorial, Email: theinsiderstories@gmail.com