Platform e-commerce mode, Sorabel akan ditutup pada akhir Juli setelah bisnis perseroan terkena dampak dari COVID-19 - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Platform e-commerce fesyen, Sorabel akan ditutup pada akhir Juli setelah bisnis perseroan terkena dampak dari COVID-19. Sebelum mengumumkan penutupan, salahsatu pendiri dan Direktur Utama perusahaan, Jeffrey Yuwono, telah mengundurkan diri pada bulan Juni.

Rekannya, Lingga Madu dan Ariza Novianti, telah meninggalkan perusahaan awal tahun lalu. Diaakuinya bisnis mereka hancur akibat dampak penyebaran virus corona, dan kantornya tidak lagi memiliki cadangan modal yang cukup untuk bertahan hidup selama pandemi. Saat ini, Sorabel sedang dalam persiapan untuk proses likuidasi, ujarnya.

Sorabel adalah merek baru dalam e-commerce fesyen sejak 2019. Sebelumnya perusahaan perintis ini dikenal dengan merek Sale Stock. Perusahaan menggambarkan dirinya sebagai toko e-commerce mode dengan memproduksi dan menjual pakaian label sendiri.

Pada awal Mei 2019, perusahaan telah menerima Pre Seri C dari beberapa investor, salah satunya adalah Kejora Ventures, untuk memperkuat posisi kas perusahaan dan untuk meningkatkan promosi kegiatan rebranding.

Pada pertengahan 2017, Sale Stock menerima pendanaan Seri B dari investor berbasis di Singapura, Gobi Partners dan Golden Equator Capital, serta Alpha JWC Ventures, Convergence Ventures, MNC Group, Korea Investmet Partners, dan SMDV senilai Rp360 miliar. Pada 2018, mereka mengklaim mencapai titik impas.

Kemudian, para pendana ini juga  terlibat dalam putaran pra-Seri C, termasuk OpenSpace Ventures, yang bergabung dalam putaran Seri B menyusul investor lainnya. Pada tahun itu, kata Lingga, rebranding berjalan dengan baik. Menggunakan inovasi baru yang disebut “Coba Dulu Baru Bayar”, konsumen dapat mencoba produk pertama dan hanya perlu membayar untuk yang sesuai ukuran mereka atau mengembalikan yang tidak cocok tanpa biaya tambahan.

Sorabel, menjual label mode sendiri untuk wanita dan menyebut penggemar wanita sebagai “Sistas”. Platform ini adalah salah satu startup e-commerce terbesar yang memimpin industri fesyen di Indonesia. Tapi, pandemi itu menghambat bisnis mereka dan mulai menawarkan 100 staf sejak awal tahun ini.

Pendapatan di segmen fesyen diproyeksikan mencapai AS$8.5 miliar (Rp123.25 triliun) pada tahun 2020. Pendapatan diperkirakan akan menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 15.9 persen dibandingkan tahun lalu dan menghasilkan volume pasar yang diproyeksikan sebesar $15.38 miliar pada tahun 2024.

US$1: Rp14,500

Ditulis oleh Staf Editorial, Email: theinsiderstories@gmail.com