JAKARTA (TheInsiderStories) – Penambang nikel PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia telah menyuntikkan kembali Rp6,5 triliun untuk membangun smelter di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang direncanakan menjadi fasilitas pemrosesan nikel pertama di daerah tersebut. Smelter itu pada tahap awal akan memproduksi 50.000 ton feronikel setiap tahun.

Huadi Nickel adalah perusahaan patungan antara Shanghai Huadi Industrial Co. China dan perusahaan lokal PT Duta Nikel Sulawesi. Afiliasi Cina Huadi memasok stainless steel untuk perusahaan multinasional seperti pembuat pesawat Boeing dan produsen mobil General Motors.

Komisaris Utama Amir Jao mengatakan investasi itu untuk penambahan enam kompor di pabrik. Dana segar telah ditransfer langsung ke Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah.

“Investasi untuk menambah tungku pabrik sudah dimulai sejak awal 2020. Jadi, tahun ini akan ada penambahan empat tungku. Tahun depan akan menambah dua tungku lagi. Nantinya perusahaan akan memiliki delapan tungku,” kata Jao di Jakarta, Senin. 07/13).

Pembangunan pusat pemrosesan pertambangan dimulai pada 2012. Fase lanjutan pengembangan smelter telah berlanjut pada 2017 dan 2019 hingga fasilitas mencapai kapasitas produksi penuh, sesuai dengan rencana perusahaan.

Direktur Pelaksana Perusahaan Jos Stefan Hidecky menambahkan pembangunan empat pabrik kompor nikel telah dimulai sesuai dengan kesepakatan PT Perusahaan Listrik Negara. Tahun depan pabrik mulai memiliki listrik sehingga dapat beroperasi pada April 2021.

Smelter Huadi adalah bagian dari total investasi senilai hingga Rp40 triliun yang akan diterima Kabupaten Bantaeng dalam beberapa tahun mendatang untuk fasilitas pemrosesan nikel dan infrastruktur pendukung, seperti pembangkit listrik, pelabuhan, dan instalasi pengolahan air, menurut Gubernur Abdullah.

Pabrik smelter ini akan menempati lahan seluas 1.000 hektar di sebidang 3.000 hektar yang disediakan oleh pemerintah setempat untuk pembangunan Taman Industri Bantaeng, yang direncanakan menjadi kawasan industri besi dan baja terintegrasi pertama di Indonesia.

Indonesia, pemasok utama mineral termasuk nikel dan bauksit, telah mendapat manfaat dari larangan langsung pemerintah atas ekspor bijih mineral dan persyaratan bagi penambang untuk memproses di dalam negeri sejak awal 2014, melihat masuknya miliaran dolar ke dalam fasilitas pengolahan mineral.

Dalam perjanjian yang ditandatangani pada 2015, PT Bantaeng Sigma Energi akan menyediakan listrik untuk pabrik smelter ke empat perusahaan PT Huadi Nikel, PT Titan Mineral Utama, PT Zhongning Mining Metalurgi dan PT Mitra Tambang Selaras, serta pemasok sumber daya energi PT Mitra Selaras Sukses Sejahtera. Perusahaan ini membangun pembangkit listrik tenaga batu bara 2×300 megawatt di pusat industri baru.

Mengikuti langkah Huadi, perusahaan lain ‘Perusahaan China Zhongning Mining’ mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan memulai pembangunan smelter di area yang sama.

“Kami telah membuka lahan dan mungkin akan segera memulai. Peralatan akan dipasang pada akhir tahun ini,” kata direktur Penambangan Zhongning, Emir Yusuf beberapa bulan lalu.

Smelter yang direncanakan setiap tahunnya akan memproduksi 120.000 ton besi kasar nikel pada tahap awal operasi sebelum mencapai 600.000 ton ketika, setelah beberapa tahun, pengembangan selesai, tambahnya.

Perusahaan akan memperoleh bahan baku dari sejumlah tambang di Sulawesi Tenggara, sementara hasil pabrik peleburan akan diekspor ke pembeli di China.

Gubernur Abdullah mengatakan pemerintahannya akan memfasilitasi aliran investasi yang akan masuk ke Sulawesi Selatan. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan kepada investor adalah dengan memfasilitasi proses perizinan termasuk dukungan dalam kebijakan terkait investasi.

Ditulis oleh Lexy Nantu, Email: lexynantu@theinsiderstories.com