PT Pemeringkat Efek Indonesia mencatat 12 perusahaan siap menerbitkan obligasi dalam mata Rupiah dengan target emisi hingga Rp15,5 triliun dalam semester II 2020 hingga tahun depan - Photo DNAIndia

JAKARTA (TheInsiderStories) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat 12 perusahaan siap menerbitkan obligasi dalam mata Rupiah dengan target emisi hingga Rp15,5 triliun dalam semester II 2020 hingga tahun depan. Emiten yang terlibat bergerak di sektor jalan tol, pelabuhan, konstruksi, dan bandara.

Menurut perusahaan pemeringkat itu, sebanyak lima perusahaan jalan tol berencana menawarkan sebanyak-banyaknya Rp7,85 triliun, satu perusahaan pelabuhan Rp3 triliun, lima perusahaan konstruksi Rp2,4 triliun, dan satu pengelola bandara mengincar hingga Rp2,25 triliun. Sebagian besar perusahaan akan menggunakan dana segar tersebut untuk pengembangan bisnis dan melunasi hutang.

Sebelumnya, perusahaan konstruksi milik negara, PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT) telah mengumumkan untuk menawarkan obligasi lokal Rp300 miliar. Perusahaan telah memperoleh peringkat BBB dari PT Fitch Ratings Indonesia.

Periode penawaran berlangsung pada 1-15 Juli dan ditargetkan listing di Bursa Efek Indonesia pada 5 Agustus. Penjamin emisi dari obligasi ini adalah PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas.

Operator jalan tol milik pemerinta, PT Jasa Marga Tbk (BEI: JSMR) juga mencari pasar obligasi untuk menaikkan sekitar Rp5 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membayar sejumlah hutang yang akan jatuh tempo pada tahun ini.

Sebelumnya, PEFINDO telah merevisi turun target penerbitan obligasi korporasi tahun ini dari semula Rp158 triliun menjadi Rp116,9 triliun disebabkan oleh wabah COVID-19. Perubahan ini dilakukan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 1,2 persen dari produk domestik bruto.

“Itu berubah karena pandemi dan ada peningkatan risiko (di pasar),” kata Fikri Permana, ekonom di lembaga pemeringkat tersebut pada Mei lalu.

Dia menekankan, bahwa target baru epidemi akan berakhir pada Agustus 2020. Namun, jika pandemi berakhir lebih lama, target pesimistis hanya Rp96,4 triliun. Revisi ini juga mempertimbangkan biaya penerbitan naik seiring dengan peningkatan yield obligasi negara 10 tahun menjadi 7,5 persen dari tahun sebelumnya sebesar 6,5 persen per tahun.

Hingga 30 April, PEFINDO telah menerima mandat peringkat utang dari 55 perusahaan dengan total nilai emisi Rp71,2 triliun. Lebih rinci, 30 badan usaha milik negara (BUMN) dan anak perusahaan dengan total emisi Rp42,1 triliun dan dari pihak swasta ada 25 perusahaan dengan nilai emisi Rp29,1 triliun.

Realisasi penerbitan obligasi BUMN hingga kuartal pertama tahun 2020 meningkat menjadi Rp10,1 triliun dari tahun lalu senilai Rp10 triliun. Sementara, nilai catatan perusahaan swasta adalah Rp17,2 triliun, turun 10,8 persen dari periode yang sama tahun 2019 menjadi Rp19,3 triliun.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menambahkan, hingga 8 Mei, total penawaran dari emiten di BEI tercatat Rp31,88 triliun, turun 34,2 persen jika dibandingkan tahun lalu. Namun, dalam pipeline, ada 61 emiten yang siap melakukan penawaran umum dengan nilai indikatif Rp39,2 triliun, tambahnya.

Lembaga ini juga melaporkan pada bulan keempat tahun 2020, penggalangan dana melalui pasar modal tercatat senilai Rp28,3 triliun dengan 22 emiten baru. Di dalam pipeline OJK, lanjutnya, ada 53 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran Rp21,2 triliun.

Pada tahun ini, regulator pasar keuangan tersebut menargetkan, total emisi di pasar saham dan obligasi mencapai Rp200 triliun dan 70 emiten menjadi perusahaan terbuka. Tahun lalu, penawaran umum di bursa lokal mencatatkan Rp161 triliun dan 60 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

AS$1: Rp14.300

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com