Pemerintah Indonesia diusulkan menyerap Obligasi Wajib Konversi (OWK) saham PT Garuda Indonesia Tbk (IDX: GIAA) senilai Rp8,5 triliun - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Pemerintah Indonesia diusulkan menyerap Obligasi Wajib Konversi (OWK) saham PT Garuda Indonesia Tbk (IDX: GIAA) senilai Rp8,5 triliun. Hal itu diungkapkan Direktur Utama perusahaan, Irfan Setiaputra, dalam rapat dengar pendapat secara virtual dengan Komisi VI DPR, hari ini (14/7/).

“Kenapa MCB? karena kami ingin memastikan bahwa manajemen juga melakukan upaya semaksimal mungkin untuk menjaga keberlangsungan usaha bukan semata-mata mengandalkan dana talangan,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.

Sebagai bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), maskapai penerbangan ini memang menjadi salah satu Badan Usaha Milik Negara yang akan mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Dalam penerbitan OWK itu, nantinya pemerintah melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) bisa bertindak sebagai pembeli siaga.

OWK yang diusulkan ini akan diterbitkan dengan tenor tiga tahun dengan tujuan memberikan kesempatan kepada manajemen untuk memperbaiki fundamental pendapatan dan beban biaya perusahaan. “Ini sudah kebeberapa kali Garuda dibantu pemerintah jadi penting memastikan cost structure dan fundamental revenue yang lebih kuat,” tandasnya.

Sebagai informasi, tahun lalu, Garuda mencatatkan laba bersih sebesar AS$6,99 juta atau setara dengan Rp99.96 miliar. Pencapaian laba 2019 ini membalikkan rugi bersih tahun 2018 sebesar $231,16 juta yang dibukukan setelah pelaporan ulang keuangan perusahaan.

Kinerja laba bersih itu sejalan dengan total pendapatan Garuda yang naik 5,5 persen menjadi $4,57 miliar pada tahun lalu dari tahun sebelumnya $4,33 miliar.Namun pada kuartal I 2020, perusahaan justru kembali membukukan rugi bersih, berbalik dari sebelumnya pembukuan laba akibat penurunan pendapatan.

Terkait kondisi keuangan perseroan, Irfan menyatakan pihaknya telah mendapat persetujuan pemegang sukuk untuk memperpanjang masa pelunasan dari global sukuk senilai $500 juta dengan tenor tiga tahun dari waktu jatuh tempo yang semula 3 Juni 2020.

“Sesuai dengan hasil pemungutan suara pada Rapat Umum Pemegang Sukuk pada hari ini, Rabu (10/6), persetujuan suara yang diberikan adalah 90,88 persen atau sebesar $454.39 juta dari seluruh hutan pokok,” kata Irfan dalam keterangannya bulan lalu.

Ditegaskannya, dengan diperolehnya persetujuan atas perpanjangan masa pelunasan global sukuk ini, perseroan meyakini akan mempercepat pemulihan kinerja perusahaan. Pada kuarta I 2020, pendapatan usaha Garuda tercatat senilai $768,12 juta, turun 43,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar $1,09 miliar.

Ditulis ole Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com