PT Garuda Indonesia Tbk (IDX: GIAA) berencana membatalkan pengiriman empat pesawat milik produsen asal Perancis Airbus SE (AIR.PA), dikatakan Direktur Utamanya dalam rapat kerja dengan parlemen hari ini (14/7) - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – PT Garuda Indonesia Tbk (IDX: GIAA) berencana membatalkan pengiriman empat pesawat milik produsen asal Perancis Airbus SE (AIR.PA), dikatakan Direktur Utamanya dalam rapat kerja dengan parlemen hari ini (14/7). Sebelumnya, perusahaan juga telah membatalkan pesanan 49 unit Boeing tipe 737 Max 8.

Perusahaan milik negara ini juga berniat merestrukturisasi atau mengakhiri kontrak yang tidak cocok dengan rekanannya. Awal tahun ini, Direktur Utama, Irfan Setiaputra, mengatakan akan mendatangkan empat pesawat Airbus baru yang dipesan pada 2016 lalu.

Pada tahun itu, Garuda memesan sekitar 14 unit tipe Airbus A330 – 990 Neo. Penandatanganan perjanjian pemesanan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo di London, Inggris. Pada November 2019, A330 – 900 Neo pertama telah mendarat di Indonesia.

Saat ini, maskapai penerbangan tersebut mengoperasikan 204 pesawat, terdiri dari 139 armada yang digunakan oleh perusahaan sendiri dan 62 pesawat yang dioperasikan oleh anak usahanya, PT Citilink Indonesia. Sebanyak 105 unit adalah pesawat tipe berbadan sempit dan 34 unit tipe berbadan lebar.

Sebanyak 181 pesawat yang dioperasikan oleh Garuda disewa, sedangkan 20 dimiliki oleh perusahaan. Setiaputra mengakui bahwa perusahaan penerbangan mengeksplorasi berbagai opsi untuk mengatasi utang perusahaan di tengah wabah COVID-19.

Menanggapi permintaan bursa lokal, maskapai milik negara mengatakan telah memulai negosiasi dengan para peminjam untuk menunda atau memperpanjang periode pembayaran. Mengutip laporan keuangan 2019,, perusahaan memiliki total pinjaman AS$1,83 miliar (Rp26.17 triliun) dan pinjaman bersih $1,53 miliar, sementara bagian ekuitas mencapai $720,62 juta.

Artinya, posisi utang terhadap ekuitas sekitar 2,55 kali dan rasio utang bersih terhadap ekuitas sekitar 214 persen. Setiaputra menyatakan, selain melakukan negosiasi ulang dengan para kreditornya, Garuda juga mencari dukungan pendanaan dari lembaga keuangan.

Selain itu, maskapai berencana untuk memotong biayanya sebesar 20 persen, dan mencari beberapa bentuk dukungan pemerintah. Dia juga berniat “mengoptimalkan” jumlah penerbangan, meningkatkan kapasitas bisnis kargo dan penerbangan repatriasi, dan menutup rute yang tidak menguntungkan.

Awal tahun 2020, Garuda telah membatalkan penerbitan obligasi global senilai $900 juta karena belum mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Awalnya, dana tersebut akan digunakan untuk membayar utang jatuh tempo sebesar $1,68 miliar pada Juni tahun ini.

Hutang jatuh tempo akan dibayar oleh tiga skema. Pertama, perusahaan akan menerbitkan obligasi tanpa jaminan khusus $750 juta. Obligasi ini memiliki tenor hingga 2024 dan akan digunakan untuk membayar utang yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Opsi terakhir yang dipertimbangkan perusahaan adalah pinjaman peer to peer dalam mata uang dolar sebesar $500 juta. Transaksi ini memiliki tenor hingga 2024 dan bertujuan untuk membayar utang Garuda yang jatuh tempo dalam satu tahun.

“Mengingat transaksi tersebut di atas 50 persen dari modal perusahaan, maka perusahaan harus mengadakan rapat pemegang saham untuk mendapatkan persetujuan,” kata manajemen.

Baru-baru ini, Garuda telah dihukum oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia dan kementerian keuangan terkait dengan laporan keuangan per Desember 2018. Dari evaluasi tersebut, mereka menjatuhkan beberapa sanksi kepada maskapai dan direksinya.

Otoritas menyatakan, direksi masing-masing akan didenda Rp100 juta, di samping sanksi kolektif lain yang akan dikenakan pada direktur dan komisaris yang telah menandatangani hasil.

Setiaputra menilai, dalam enam bulan ke depan industri penerbangan akan memburuk, karena tidak ada kejelasan kapan pandemi akan berakhir. Biasanya, musim puncak di bulan Mei dan Juni untuk pelancong karena bertepatan dengan akhir Ramadhan dan liburan sekolah.

Selain itu, Garuda juga mungkin tidak dapat mengoperasikan penerbangan haji tahun ini, yang jatuh pada periode Juli – Agustus. Perusahaan mengharapkan penurunan 33 persen dalam total pendapatan pada kuartal pertama 2020 karena penurunan jumlah penumpang dan harga tiket.

Belakangan ini, segmen penumpang Garuda menyumbang lebih dari 80 persen dari total pendapatannya, dan penurunan jumlah penumpang terjadi setelah Indonesia menerapkan langkah-langkah untuk membatasi penyebaran COVID-19.

Pada tahun 2019, Garuda membukukan laba operasi sebesar $147 juta, sebuah perubahan dari kerugian operasional tahun 2018 senilai $199 juta. Pendapatan senilai $4,56 miliar, dan laba bersih adalah $7 juta.

AS$1: Rp14,300

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com