Mantan bos PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia, Honggo Wendratno, dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus kondensat, dengan nilai kerugian negara mencapai Rp37,8 triliun - Photo by Biro Pers Istana

JAKARTA (TheInsiderStories) – Mantan bos PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI), Honggo Wendratno, dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus kondensat, dengan nilai kerugian negara mencapai Rp37,8 triliun. Ia dihukum pidana penjara selama 16 tahun dan denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Selain itu, Kejaksaan Agung juga mengeksekusi barang bukti uang senilai Rp97 miliar dan kilang minyak di Tuban dari terpidana yang semuanya dikembalikan ke negara. Menurut Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Ali Mukartono, dalam proses penuntutan kasus tersebut,  jaksa penuntut umum menemukan adanya sejumlah uang yang tersimpan dalam satu rekening berjumlah Rp97 miliar.

Ia menyatakan, uang yang disetorkan ke kas negara tersebut bukan uang pengganti, melainkan hasil keuntungan terpidana berdasarkan UU Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 selama menjabat di TPPI.

“Uang ini merupakan perampasan keuntungan atau penghapusan keuntungan dari yang diperoleh terpidana berdasarkan ketentuan Pasal 18 huruf D UU Tipikor Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi,” ucapnya.

Terdakwa korupsi penjualan kondensat di BP Migas tersbut sampai saat ini masih berstatus buronan. Selama persidangan terhadap Honggo dilakukan hakim tanpa kehadirannya atau in absentia karena berstatus Daftar Pencarian Orang.

Kasus ini bermula pada 1998 ketika krisis ekonomi menerpa ekonomi nasional. TPPI terdampak dan kolaps sehingga diambilalih pemerintah. Sejumlah cara dilakukan pemerintah guna mempertahankan kelangsungan hidup TPPI.

Pada 2009, Kepala BP Migas, Raden Priyono, memutuskan untuk menyuntik dana ke TPPI sebesar AS$2,7 miliar. Hanya saja, belakangan terjadi masalah. Perusahaan kemudian mengembalikan uang sebesar $2,5 miliar ke Kementerian Keuangan, tapi masih ada selisih uang yang belum dikembalikan.

Pada Juni 2015, Mabes Polri menetapkan Raden dan Honggo sebagai tersangka. Begitu juga dengan Deputi BP Migas, Djoko Harsono. Honggo kemudian kabur. Lalu, pada Januari 2020, Honggo dan kawan-kawan mulai diadili di PN Jakarta Pusat.

Saat ini TPPI telah diambil oleh perusahaan plat merah, PT Pertamina dan telah mengintegrasikan kilang milik perusahaan dengan Tuban Petro. Langkah baru itu dilakukan setelah perusahaan energi tersebut itu membeli saham Tuban Petro seri B senilai Rp3,2 triliun dan menguasai 51 persen saham mayoritas.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com