PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (IDX: INTP) menurunkan belanja modal dari Rp1,4 triliun menjadi Rp1,1 triliun mempertimbangkan dampak dari pandemi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Perusahaan publik milik Grup Salim, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (IDX: INTP) memperkirakan penjualan semen nasional akan mengalami kontraksi 7 persen tahun ini disebabkan turunnya permintaan selama pandemi. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menunjukkan penjualan semen nasional pada triwulan pertama (Q1) 2020 turun 5.4 persen menjadi 16.28 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Melihat perkembangan di Q1 itu, perseroan telah memutuskan menurunkan belanja modal dari Rp1,4 triliun menjadi Rp1,1 triliun. Untuk menekan biaya operasi, perusahaan juga berencana menutup sebagian operasional pabrik dan memangkas gaji top manajemen hingga 20 persen.

ASI juga melaporkan konsumsi domestik juga turun 4,91 persen menjadi 14,9 juta ton dan ekspor turun 2,46 persen menjadi 1,39 juta ton. ASI juga melaporkan, total output nasional turun 4,71 persen menjadi 16,29 juta ton pada Q1 2020 dari periode yang sama tahun lalu sebesar 17,09 MT semen.

Di tengah penurunan tersebut, PT Semen Indonesia Tbk (IDX:: SMGR) masih mampu meningkatkan penjualannya sebanyak 9,36 juta ton semen, atau naik 7,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan produsen semen milik negara ini hanya tumbuh 5 persen pada Q1 2020.

Di periode yang sama pangsa pasar Indocement masih relatif stabil di tingkat 26,1 persen dengan pertumbuhan positif di pasar utama seperti Jawa dari 34,0 persen menjadi 35,2 persen dan Sumatra dari 11,3 persen menjadi 12,0 persen. Namun dari sisi Pendapatan terjadi penurunan 9.9 persen dari Rp3.73 triliun ke Rp3,36 triliun. Namun laba bersih mengalami sedikit peningkatan 0.9 persen dari Rp396.9 miliar menjadi Rp400.4 miliar.

Sejauh ini, perusahaan telah menghentikan produksi dari tujuh pabrik yang beroperasi di Cirebon dan Citeureup, Jawa Barat. Saat ini perseroan tercatat mengoperasikan 13 pabrik yang berlokasi di seluruh Indonesia dengan kapasitas produksi 24,9 juta ton.

Dalam rapat pemegang saham hari ini, Indocement memutuskan membagi dividen Rp500 per saham atau senilai total Rp1,83 triliun. Besaran dividen tersebut berasal dari gabungan seluruh laba 2019 ditambah saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya.

Industri semen di Indonesia saat ini menghadapi kelebihan pasokan. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, industri semen nasional kelebihan pasokan sebesar 37 persen atau 40,9 juta ton dari kebutuhan 59,21 juta ton semen untuk pembangunan infrastruktur pada tahun 2020.

Memasuki Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020 -2024, pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas pemerintah. Terbukti dari total kebutuhan pendanaan untuk infrastruktur mencapai Rp2,058 triliun untuk periode tersebut.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com