The impact of the COVID-19 pandemic in India has resulted in severe disruptions to industrial production and consumption spending during April and May - Photo: Special

JAKARTA (TheInsiderStories) – Tingginya kasus COVID-19, memaksa Perdana Menteri India, Narenda Modi, mencari strategi guna menutupi defisit anggaran pemerintahannya yang dikhawatirkan akan membengkak. Kabar terbaru menyebutkan, negara tersebut berencana akan melepas dua perusahaan milik negara, yakni Coal India dan IDBI Bank.

Coal India adalah salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, sementara IDBI Bank saham terbesarnya dipegang oleh Life Insurance Corporation of India (LIC India), perusahaan BUMN asuransi yang sahamnya 100 persent dimiliki oleh pemerintah India. Menurut pemberitaan global, pemerintah India diperkirakan akan mendapatkan dana segar senilai 200 miliar rupee (Rp34.78 triliun) melalui penjualan kedua saham tersebut.

Tahun lalu, LIC India membeli 51 persen saham IDBI Bank menjadikan pemerintah India memegang porsi saham sekitar 47 persen. Sementara, negara tersebut juga memegang lebih dari 66 persen saham Coal India. Sebelumnya, pemerintahan Modi telah menjual 10 persen saham Coal India pada Januari 2015, dan meraih dana hingga 225,5 miliar Rupee.

Di awal Februari lalu, Modi mengumumkan berencana mencari dana sebanyak 2,1 triliun rupee dengan menjual aset negara demi menjaga defisit anggaran sebesar 3,5 persen dari produk domestik bruto akibat dampak dari pandemi COVID-19. Universitas Johns Hopkins mengungkapkan, hingga Jumat pagi, jumlah kasus positif di India sudah mencapai 767.296 orang dan menyebabkan 21.129 orang meninggal.

India berada di urutan ketiga dunia setelah AS (3,12 juta kasus) dan Brasil (1,76 juta kasus). Negara di kawasan Asia Selatan ini bahkan menggeser Rusia yang sebelumnya di tempat ketiga (706.240 kasus).

Dana Moneter Internasional memperkirakan bahwa utang publik di India akan naik menjadi 85,7 persen dari PDB tahun depan dari saat ini sekitar 70 persen dari PDB. Sementara, Fitch Ratings merevisi turun rating India ke BBB- dari stabil menjadi negatif, dan menyatakan bahwa pandemi telah secara signifikan melemahkan prospek pertumbuhan ekonomi negeri tesrsebut tahun ini.

Rating agensi ini juga memaparkan tantangan terkait dengan beban utang publik yang tinggi. Aktivitas ekonomi India berkontraksi sebesar 5 persen pada tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2021 karena tindakan penguncian ketat yang diberlakukan sejak 25 Maret, sebelum rebound sebesar 9,5 persen pada tahun 2022.

Pandemi virus corona telah secara signifikan melemahkan prospek pertumbuhan negara untuk tahun ini dan mengungkapkan tantangan terkait dengan beban utang publik yang tinggi. Rebound terutama akan didorong oleh efek basa rendah.

Rupee 1: Rp192,39

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com