GMF AeroAsia Assigned as ASEAN's Airbus Components Repairs
Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan Efek Beragun Aset Mandiri (EBA) GIAA01 Kelas A milik maskapai milik negara, PT Garuda Indonesia Tbk (IDX: GIAA) dan PT Mandiri Manajemen Investasi - Photo by Airbus

JAKARTA (TheInsiderStories) – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan Efek Beragun Aset (EBA) Mandiri atau GIAA01 milik maskapai milik negara, PT Garuda Indonesia Tbk (IDX: GIAA) dan PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI). Suspensi ini terhitung sejak sesi pertama perdagangan hari Senin (27/7) hingga pengumuman lebih lanjut.

Keputusan ini diambil setelah perseroan mengumumkan terdapat penundaan atas pembayaran amortisasi pokok EBA Mandiri. Atas dasar itu, BEI dalam pernyataannya memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan MGIA01 di sistem perdagangan Bursa terhitung sejak sesi pertama perdagangan pada 27 Juli hingga pengumuman Bursa lebih lanjut.

Seharusnya, pembayaran amortisasi kepada pemegang EBA dilaksanakan hari ini sebesar Rp360 miliar. Jumlah efek sebelum amortisasi kedua tercatat senilai Rp1,44 triliun. Pada 22 Juni 2018, Garuda melakukan perjanjian dengan KIK EBA Mandiri GIAA01 untuk menerbitkan surat berharga hak atas pendapatan penjualan tiket penerbangan rute Jeddah dan Madinah dengan tenor 5 tahun, dengan nilai Rp2 triliun.

Instrumen tersebut terdiri atas EBA Kelas A senilai Rp1,8 triliun dan EBA Kelas B Rp 200 miliar. Instrumen ini mendapatkan peringkat AA+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia dengan imbal hasil sebesar 9,75 persend per tahun dan tenor lima tahun, dimana akan jatuh tempo pada 27 Juli 2023.

Dalam keterbukaan informasi pada 16 Juli silam, Mandiri Manajemen Investasi menyebutkan turunnya kinerja keuangan Garuda dan restrukturisasi SUKUK global yang baru-baru ini dilakukan perusahaan ternyata berdampak pada kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya terhadap GIAA01.

Manajemen MMI, dalam suratnya kepada BEI, menegaskan ketidakpastian yang dialami Garuda saat ini adalah pandemi COVID-19 yang menyebabkan perusahaan terpaksa mengalami penurunan hingga 30,14 persen. Perseroan kembali mencatatkan kerugian bisnis hingga AS$120,16 juta (Rp1.74 triliun) pada kuartal I 2020.

Penurunan kinerja ini disebabkan karena penerbangan berjadwal yang turun signifikan, padahal berkontribusi hingga 85,21 persen dari total pendapatan Garuda. Sedangkan 14,10 persen yang disumbang oleh pendapatan lainnya juga turun 36,96 persen di periode tersebut.

“Menurunnya operasional dan kinerja keuangan GIAA ini berpotensi untuk mengurangi kemampuan membayar kewajiban kepada pemegang EBA Mandiri GIAA01,” tegas MMI.

AS$1: Rp14,500

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com