Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia melaporkan bahwa ekspor minyak sawit dan turunannya drop 13,7 persen ke posisi 12,73 juta ton hingga Mei 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu - Photo: Spesial

JAKARTA (TheInsiderStories) – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan bahwa ekspor minyak sawit (CPO) dan turunannya drop 13,7 persen ke posisi 12,73 juta ton hingga Mei 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor juga turun dari AS$1,64 miliar menjadi $1,47 miliar selama periode Januari hingga Mei 2020.

Khusus di bulan Mei, ekspor menurun 8,37 persen dari 2,65 juta ton di bulan April menjadi 2,42 juta ton. Lalu, berdasarkan destinasi tujuan ekspor, penurunan terbesar terjadi dengan Cina sebesar 21 persen menjadi 87.700 ton. Kemudian, Uni Eropa drop 16,62 persen menjadi 81.500 ton, Pakistan turun 23,4 persen menjadi 47.000 ton, dan ke India melorot 9,2 persen menjadi 38.600 MT CPO.

Menurut Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono dalam pernyataan resmi yang dirilis hari ini (07/10), produksi CPO dan turunannya juga melemah 14 persen menjadi 19 juta ton, konsumsi domestik turun 3,6 persen menjadi 7,33 juta ton, dan volume ekspor adalah 12,74 juta ton atau turun 13,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penurunan ekspor terutama terjadi pada minyak sawit olahan yang umumnya disebabkan oleh perbedaan harga minyak sawit dengan minyak kedelai kecil,” katanya.

Mukti menambahkan, penurunan ekspor ke China kemungkinan disebabkan oleh peningkatan crushing oileed terutama minyak kedelai. Tapi, penurunan ekspor ke China, menurutnya, telah diimbangi dengan peningkatan ekspor ke beberapa negara, seperti ke Mesir, naik 81 persen dibandingkan bulan sebelumnya, Ukraina melonjak 99 persen, Filipina meningkat 73 persen, Jepang naik 35 persen, dan Oman melompat 85 persen.

Ia memperkirakan, permintaan domestik dan ekspor untuk minyak nabati dari Cina, India, dan negara-negara lain akan mulai meningkat sejalan dengan pemulihan kegiatan ekonomi global. Dia melanjutkan, meskipun ekspor Mei menurun, konsumsi domestik CPO dan turunannya dalam lima bulan pertama tahun 2020 naik 3,6 persen menjadi 7,33 juta ton dibandingkan tahun lalu.

“Aktivitas ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga permintaan minyak sawit untuk makanan di masa depan juga akan meningkat mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel,” kata Mukti.

Ditulis oleh Staf Editorial, Email: theinsiderstories@gmail.com