PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (IDX: CPIN) dikabarkan mencari pinjaman senilai total AS$307,9 juta (Rp4.40 triliun) dalam denominasi Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Emiten pakan ternak milik konglomerat Jiaravanon asal Thailand, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (IDX: CPIN) dikabarkan mencari pinjaman senilai total AS$307,9 juta (Rp4.40 triliun) dalam denominasi Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah. Perusahaan menargetkan pinjaman dalam mata uang lokal Rp3 triliun dan $100 juta dalam mata uang Dollar AS.

Sejumlah sumber menyebutkan, Citi dan DBS Bank telah mendapatkan mandated untum menangani pencarian pinjaman sindikasi tersebut. Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa perusahaan hanya melibatkan bank yang pernah ambil bagian dalam sindikasi perseroan sebelumnya.

Berdasarkan data laporan keuangan Charoen Phokpand, beberapa bank yang telah memberikan pinjaman sindikasi kepada perusahaan Citigroup Global Markets Singapore Pte. Ltd., Singapura, Australia and New Zealand Banking Group Ltd., Australia, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, DBS Bank Ltd., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank DBS Indonesia dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation.

Pada 20 Nopember 2014, perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi dari Citigroup Global Markets Singapore Pte., Ltd., Singapura, Australia and New Zealand Banking Group Ltd., Australia, BCA, CIMB Niaga, DBS Bank Ltd., Bank Mandiri, Bank DBS Indonesia dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation senilai $200 juta dan Rp2.4 triliun. Lalu pada 11 Nopember 2015 sebesar $100 juta dari kreditor yang sama dan beberapa bank lainnya.

Hingga kuartal I-2020, Charoen Phokpand membukukan laba bersih Rp922,26 miliar, naik 13,64 persent dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp811,54 miliar. Hanya saja penjualan bersih justru turun 3,94 persen menjadi Rp13,88 triliun dibandingkan kuartal I-2019 senilai Rp14,45 triliun. Hal ini disebabkan oleh beberapa segmen usaha yang menurun dibandingkan dengan kuartal I-2019.

Pendapatan usaha segmen pakan ternak ini juga turun menjadi Rp6,56 triliun dibandingkan kuartal I-2019 senilai Rp7,05 triliun, segmen ayam pedaging turun tipis menjadi Rp3,96 triliun, segmen anak ayam usia sehari juga turun menjadi Rp1,5 triliun dari Rp1,86 triliun. Adapun pendapatan bisnis ayam olahan naik menjadi Rp1,39 triliun dari sebelumnya Rp1,11 triliun, linis bisnis lainnya sejumlah Rp462,07 miliar dari semula Rp449,36 miliar.

Bisnis Charoen Phokpand meliputi pembibitan ayam ras, kegiatan rumah potong dan pengepakan daging bukan unggas, kegiatan rumah potong dan pengepakan daging unggas, industri pengolahan dan pengawetan produk daging dan daging unggas, dan industri pembekuan buah-buahan dan sayuran.

Mereka juga berbisnis industri tepung campuran dan adonan tepung, industri makanan dan masakan olahan, industri bumbu masak dan penyedap masakan, industri ransum makanan hewan, industri produk farmasi untuk hewan, dan industri barang dari plastik untuk pengemasan.

Charoen Phokpand juga berbisnis di industri perlengkapan dan peralatan rumah tangga (tidak termasuk furnitur), perdagangan besar binatang hidup, perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan, pergudangan dan penyimpanan, aktivitas cold storage. Pemegang saham pengendali perusahaan adalah keluarga Jiaravanon asal Thailand.

Perusahaan didirikan dengan nama PT Charoen Pokphand Indonesia Animal Feedmill Co. Ltd., pada 7 Januari 1972. Situs resmi perusahaan mencatat, CPIN masuk Bursa Efek pada tahun 1991, dengan menawarkan sebanyak 2.5 juta lembar saham dengan harga penawaran Rp5.100 per saham.

Keluarga Jiavanon juga sudah berinvestasi di Tanah Air, tapi kemudian mulai mengurangi porsinya di beberapa sektor termasuk bank. Misalnya pada Februari 2018, ia memutuskan keluar dari PT Bank Agris Tbk. Di bank tersebut, kepemilikan keluarga Benjamin Jiaravanon sebesar 0,28 persen saham dan PT Dian Intan Perkasa dengan 82,59 persen saham.

Ditulis oleh Staf Editor, Email:  theinsiderstories@gmail.com