Indonesian manufacture Purchasing Managers Index stood at 51.2 in March, higher than February 50.1 - Photo by Industry Ministry Office

JAKARTA (TheInsiderStories) – Sektor Industri Manufaktur Indonesia mencatat fase kontraksi yang lebih dalam pada kuartal kedua (Q2) tahun 2020. Hal ini tercermin dalam Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 28,55 persen, turun dari 45,64 persen pada kuartal pertama dan 52,66 persen pada periode yang sama tahun lalu.

“Kontraksi terjadi di semua komponen, dengan yang paling dalam berasal dari komponen volume produksi sejalan dengan penurunan permintaan sebagai akibat pandemi COVID-19,” kata bank sentral dalam sebuah pernyataan hari ini (13/07).

Menurut sektor, semua subsektor mencatat kontraksi di kuartal tersebut, dengan kontraksi terdalam di sub-sektor Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki, kata bank sentral.

Bank sentral melihat peningkatan di kuartal ketiga meskipun masih dalam fase kontraksi. Diperkirakan akan mencapai 45,72 persen, didukung oleh komponen indeks dari total volume pesanan dan volume produksi.

Menurut IHS Markit yang berbasis di London, PMI Indonesia meningkat menjadi 39,1 pada Juni 2020, dari 28,6 sebulan sebelumnya, dengan kepercayaan bisnis melonjak ke level tertinggi sejak Januari. Indeks output masa depan, benchmark, dan sentimen bisnis naik menjadi 73 persen pada Juni.

Ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah untuk pemulihan ekonomi berada di jalur yang benar, terutama untuk industri nasional, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan.

“Aspek paling penting sehubungan dengan peningkatan PMI pada Juni 2020 adalah meningkatnya kepercayaan operator industri manufaktur. Ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di era normal baru telah berjalan di jalur yang benar,” kata Agus dalam sebuah pernyataan di Jakarta.

“Ini adalah indeks tertinggi selama lima bulan terakhir, dan pencapaian ini akan berfungsi sebagai pedoman bagi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang terus mendorong kegiatan dalam industri manufaktur di era normal baru,” kata menteri Agus.

Namun, pemerintah harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2020.

“Periode ini penting, jadi kita harus mengambil tindakan pencegahan untuk tujuan ini. Ini karena akan menentukan kinerja ekonomi pada 2021,” katanya.

Menteri Agus menunjukkan bahwa industri ini merupakan penyumbang terbesar untuk produk domestik bruto negara itu, sebesar 19,98 persen pada kuartal pertama tahun ini.

“Untuk menjaga kinerja sektor manufaktur, Kementerian Perindustrian telah mendukung industri untuk melanjutkan operasi dengan mengajukan izin operasi industri dan mobilitas dan mematuhi protokol kesehatan,” menteri Agus mencatat, menambahkan pada Juli, kementerian telah mengeluarkan lebih dari 17 ribu untuk memastikan bahwa lima juta pekerja dapat terus bekerja.

Selain stimulus ekonomi untuk menghidupkan kembali sektor industri di tengah pandemi COVID-19, pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif bagi investor.

“Pemerintah telah merencanakan untuk mendirikan 27 zona industri baru pada 2024 di seluruh negeri,” katanya.

Sebuah zona industri baru di Batang, Jawa Tengah, akan dibangun untuk memfasilitasi investor, termasuk yang merelokasi pabrik mereka dari Cina.

“Para investor dapat mengambil manfaat dari empat ribu hektar lahan di dalam wilayah PTPN IX Siluwok,” katanya, seraya menambahkan bahwa lokasinya strategis, dengan akses ke pelabuhan, air bersih, kereta api, dan Jalan Tol Trans-Jawa.

Ditulis oleh Lexy Nantu, Email: lexynantu@theinsiderstories.com