PT United Tractors Tbk (IDX: UNTR) memotong belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini dari US$450 juta menjadi $250 juta karena pandemi COVID-19 - Foto oleh UNTR.

JAKARTA (TheInsiderStories) – Produsen alat berat Indonesia, PT United Tractors Tbk (IDX: UNTR) memotong belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini dari US$450 juta menjadi $250 juta karena pandemi COVID-19, Demikian laporan media lokal hari ini, Rabu (07/01). Unit Grup Astra itu akan menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan bisnis kontraktor penambangan dan unit lainnya.

Sekretaris Perusahaan, Sara K. Loebis, mengatakan selama paruh pertama tahun 2020 perusahaan telah membeli dan remanufaktur alat berat di unitnya, mulai dari PT Pamapersada Nusantara hingga tambang emas Martabe di Sumatera Utara.

UNTR mencatat pertumbuhan positif melalui entitas bisnisnya, Agincourt Resources. Pada Mei 2020, United Tractor telah menjual 40.000 ons emas, meningkat 122,2 persen dari volume penjualan bulan sebelumnya sebesar 8.000 ons emas. Loebis mengatakan penjualan emas lebih tinggi karena proses backlog yang sebelumnya tidak dapat diproses karena pembatasan sosial skala besar.

Baru-baru ini, Moody’s telah menegaskan peringkat UNTR di level Baa2 dengan prospek tetap stabil. Penegasan peringkat ini mencerminkan neraca UNTR yang kuat, di bisnis jasa penambangan dan alat berat serta didukung profil likuiditas yang sangat baik sehingga pelemahan harga batubara dan perlambatan permintaan akibat pandemi virus corona bisa terjaga.

UNTR juga dianggap memiliki kebijakan keuangan yang konservatif dan transparan, tidak tergantung pada utang luar negeri sehingga saat pendapatan dan arus kas turun tidak akan menimbulkan banyak masalah.

UNTR juga berhasil mempertahankan leverage terlihat dari utang per EBITDA berada di bawah 1,5 kali selama 15 tahun terakhir. Pada 31 Maret 2020, leverage yang disesuaikan di 1,1 kali dengan posisi saldo kas tunai lebih dari utang yang dibukukan.

Namun demikian, penurunan harga batubara akan membebani pendapatan dan laba UNTR. Bisnis penjualan alat berat untuk pertambangan dan konstruksi masih dalam tren melemah. Ini karena banyak perusahaan pertambangan yang menunda ekspansi, begitu juga perusahaan kontruksi yang menangguhkan aktivitas konstruksi di masa pandemi virus corona.

Moody’s yakin, UNTR mampu mempertahankan likuiditas dengan sangat baik karena didukung dana kas tunai sebesar Rp 17,1 triliun. UNTR juga memiliki fasilitas pinjaman revolving yang belum ditarik $300 juta. Fasilitas pinjaman revolving ini berlaku sampai Oktober 2023. UNTR bahkan masih memiliki fasilitas club loan senilai $400 juta berlaku hingga November 2021. Sehingga UNTR bisa melalui arus kas bebas dalam 12 – 18 bulan ke depan.

Likuiditas UNTR ke depan akan didukung oleh langkah-langkah pengendalian kas perusahaan selama masa pandemi. Salah satu cara pengendalian kas UNTR adalah dengan mengurangi belanja modal sebesar 40 persen dari rencana pada tahun 2020 menjadi Rp 4 triliun.

Setiap tahun, UNTR harus mengeluarkan biaya amortisasi sebesar Rp 2,4 triliun dan pinjaman berjangka $700 juta. Dimana pinjaman jatuh tempo pada Maret 2020 senilai $ 200 juta.

UNTR menghadapi risiko lingkungan yang meningkat terkait dengan industri pertambangan batubara, termasuk risiko transisi karbon karena negara berusaha mengurangi ketergantungan mereka pada tenaga batubara. Risiko ini agak dikurangi karena pelanggan mereka memasok batu bara terutama ke Asia, di mana batu bara akan tetap menjadi sumber daya utama.

US$1: Rp14,100

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com