PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menargetkan bisa memproduksi minyak dan gas dari lapangan KLD di kuartal 1, 2021 - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) - PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menargetkan bisa memproduksi minyak dan gas dari lapangan KLD di kuartal 1, 2021. Diharapkan dua sumur di lapangan tersebut akan menyumbang tambahan produksi minyak dan gas sebesar 500 billion cubic feet per day & 15 million standard cubic feet per day (MMSCFD).

“Kami berharap capaian ini dapat dikawal dengan baik agar memberikan dampak positif pada penambahan produksi migas dan dalam jangka panjang akan menopang upaya mencapai produksi 1 juta barrel di 2030 guna mewujudkan ketahanan energi nasional,” ujar Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto dalam keterangan persnya hari ini (22/7).

Direktur Utama PT PHE Subholding Upstream, Budiman Parhusip menambahkan, untuk proyek tersebut perusahaan mengalokasikan biaya AS$35.42 juta (Rp513.59 miliar) dengan potensi cadangan mencapai 6.9 MMBOE. Produksi dari Lapangan KLD akan digunakan seluruhnya untuk kepentingan dalam negeri.

Pemerintah Indonesia menargetkan akan menjadi negara bebas impor minyak mulai tahun 2026. Menurut direktur di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Mohammad Hidayat, berdasarkan prognosis pasokan dan permintaan bahan bakar untuk tahun 2020 - 2026, produksi minyak nasional diperkirakan mencapai 87,4 juta kiloliter (KL), sementara permintaan mencapai 85,1 juta KL.

Pemerintah, ujarnya, menyusun prognosis untuk kebutuhan bahan bakar ini dengan asumsi peningkatan permintaan 3,16 persen per tahun. Ia memaparkan, pada 2020-2021, produksi bahan bakar minyak dari kilang dalam negeri diperkirakan masih akan stagnan. Namun, mulai tahun 2022 diperkirakan akan ada tambahan produksi dari Balongan dan permintaan bahan bakar diperkirakan 74,7 juta KL.

Kemudian, penyelesaian Balikpapan diharapkan pada tahun 2023 dan akan berkontribusi pada produksi bahan bakar tambahan di 57,5 ​​juta KL dan impor turun sedikit menjadi 25 juta KL. Permintaan bahan bakar diproyeksikan mencapai 77,3 juta. Untuk 2024, permintaan bahan bakar diperkirakan 80 juta KL, produksi bahan bakar tetap di 57,5 ​​juta KL dan impor 25,9 juta KL.

Impor bahan bakar diproyeksikan menurun drastis pada tahun 2025 di mana permintaan diperkirakan mencapai 82,5 juta KL, sementara produksi bahan bakar mencapai 68,1 juta KL dan impor 13,4 juta KL. Penurunan impor ini disebabkan oleh tambahan produksi bahan bakar dari kilang Bontang.

“Pada 2026, diharapkan ada tambahan produksi dari Cilacap dan Tuban. Dengan selesainya pembangunan RDMP dan GRR, kita tidak perlu mengimpor bahan bakar lagi, ”kata Hidayat.

Pada kuartal pertama (1Q) 2020, produsen minyak terbesar di Indonesia ini memproduksi 918,8 MBOEPD. Secara rinci, produksi minyak rata-rata 420,4 MBOPD dan produksi gas alam mencapai rata-rata 2887,9 MMSCFD dari sejumlah anak perusahaan hulu Pertamina yang berkontribusi pada produksi, termasuk PT Pertamina EP (PEP), PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), dan PT Pertamina International EP (PIEP), terutama di bidang Aljazair.

Unit PHI, PT Pertamina Hulu Mahakam, yang mengelola Blok Mahakam, mencatat rata-rata produksi gas 659 MMSCFD dan produksi minyak dan kondensat PHM mencapai 30,34 MBOPD. Anak perusahaan lainnya, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga diproduksi 11,95 MBOPD atau melonjak 138,5 persen dibandingkan dengan target pada 1Q 0f 2020.

Kemudian, produksi Hulu Pertamina Kalimantan Timur, yang juga merupakan anak perusahaan PHI, mencapai 11,26 MBOPD atau 109,6 persen di atas target 10,27 MBOPD. Dan, produksi luar negeri yang dicatat oleh PIEP juga telah berhasil memberikan kontribusi pada produksi minyak dan gas 156 MBOEPD atau naik 103 persen pada kuartal 1 dari target 2020.

Pada tahun ini, Pertamina menyiapkan nilai investasi untuk sektor hulu senilai $2,45 miliar.

US$1: Rp14,500

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com