adan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Sang Hyang Seri, PT Pertani, dan PT Pupuk Kujang mengembangkan food estate di Sukamandi, Jawa Barat - Photo oleh RNI

JAKARTA (TheInsiderStories) – Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Sang Hyang Seri, PT Pertani, dan PT Pupuk Kujang mengembangkan food estate guna memacu produksi beras nasional di Sukamandi, Jawa Barat. Sebagai proyek percobaan, keempat perusahaan akan memanfaatkan lahan seluas 1.000 Hektar.

Menurut Direktur Utama RNI, Eko Taufik Wibowo dalam keterangan pers hari ini (24/7), pengembangan proyek ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut melalui program Corporate Farming yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Diharapkan dengan adanya pendampingan, tingkat produktivitas di lahan tersebut dapat meningkat 70 persen dari semula 5 ton per hektar menjadi 8,5 ton per hektar, sehingga menghasilkan 8.500 ton gabah kering panen (GKP).

Pertengahan bulan ini, Presiden Joko Widodo telah menunjuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk memimpin pelaksanaan program food estate nasional di Kalimantan Tengah. Program di atas lahan seluas 148.000 hektar diharapkan dapat menghasilkan 592.000 – 740.000 ton beras sekali panen atau 1,18 juta – 1,48 juta ton per tahun.

Dalam pemilihan presiden tahun 2014 dan 2019, keduanya menjadikan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani sebagai visi utama mereka di sektor ekonomi. Dengan ditunjuknya Prabowo untuk memimpin proyek ini, menjadikan keduanya terlihat berusaha memenuhi janji mereka.

“Karena ini tentang cadangan makanan strategis, sektor utama akan berada di bawah wewenang Menteri Pertahanan dengan dukungan dari Menteri Pertanian dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tentu saja, kami juga mengharapkan dukungan dari gubernur dan bupati daerah,” kata Jokowi melalui teleconference pada 9 Juli lalu.

Pemerintah berencana mengembangkan 20.704 hektar lahan pertanian baru di Kabupaten Kapuas. 5.840 hektar di antaranya sudah difungsikan sebagai lahan pertanian. Secara keseluruhan, akan ada sekitar 165.000 hektar lahan pertanian potensial di Kalimantan Tengah untuk diubah menjadi perkebunan pangan nasional. Hingga saat ini, sekitar 85.500 hektar telah difungsikan sebagai lahan pertanian produktif.

Bahkan sebelum munculnya COVID-19, ketahanan pangan Indonesia telah lama menjadi sumber kekhawatiran karena ketergantungan negara pada impor makanan pokok untuk memenuhi permintaan domestik untuk komoditas seperti gula, beras, jagung, dan daging sapi.

Mengutip Badan Pangan Dunia, gangguan global yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dapat menyebabkan kekurangan pangan di seluruh dunia. Yang membuat keadaan akan menjadi lebih buruk adalah musim kemarau yang berkepanjangan  dan dapat memengaruhi hasil keseluruhan sektor pertanian, yang mempekerjakan lebih dari seperempat tenaga kerja di seluruh jagad.

World Food Programme Indonesia memperkirakan bahwa negara tersebut mengalami penurunan produksi beras dari 13,2 persen dari tahun ke tahun menjadi 16,1 juta ton pada paruh pertama tahun 2020. Data Badan Pusat Statsitik menunjukkan bahwa produksi beras telah turun 7,75 persen menjadi 31,31 juta ton pada tahun lalu dibandingkan dengan 2018.

Pada tahun yang sama, luas lahan yang digunakan untuk menanam padi turun 6,15 persen tahun-ke-tahun menjadi 10,68 juta hektar. Untuk memastikan ketersediaan pangan di negara ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin mengungkapkan rencana untuk mengembangkan 164.598 hektar lahan pertanian, termasuk semak belukar, di Kabupaten Pulau Pisang, Kalimantan Tengah.

Pengembangan ditargetkan selesai pada tahun 2022 dan diharapkan untuk meningkatkan produksi beras dan jagung, dengan hasil yang diharapkan 2 ton beras per hektar. Kementerian juga telah membawa musim tanam padi lebih awal ke Mei dan Juni, sehingga musim panen akan terjadi pada bulan Agustus dan September. Diperkirakan panen 12,5 juta hingga 15 juta ton beras pada Desember.

Di Indonesia, pasokan pangan dalam negeri telah lama ditambah dengan impor meskipun sudah ada seruan untuk swasembada. Ketergantungan pada impor bahan pokok ini sebagian besar disebabkan oleh produksi dalam negeri yang buruk di negara itu yang gagal mengimbangi peningkatan populasi negara itu.

Pada tahun 2019, produksi beras dalam negeri Indonesia mencapai 31,31 juta ton, yang hanya melebihi permintaan 29,6 juta ton, yang membutuhkan kelebihan stok untuk diimpor dari Vietnam, India, dan Myanmar. Sementara impor makanan telah lama memberi Indonesia jaring pengaman untuk membantu memenuhi permintaan domestik, pandemi COVID-19 telah membatasi akses ke jalur kehidupan penting ini melalui gangguan pada rantai pasokan internasional dan jaringan distribusi.

Selain itu, beberapa pasar pasokan impor Indonesia, seperti Vietnam dan India, pada awal pandemi COVID-19 membatasi ekspor atau ragu-ragu untuk menandatangani kontrak ekspor karena gangguan distribusi global.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com