Deputi gubernur senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II (Q2) 2020 akan menyusut ke level 4 - 4.8 persen dari produk domestik bruto (PDB) dibandingkan periode yang sama tahun lalu - Photo: Istimewa

JAKARTA (TheInsiderStories) – Deputi gubernur senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II (Q2) 2020 akan menyusut ke level 4 – 4.8 persen dari total produk domestik bruto (PDB) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini disebabkan dampak dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berkepanjangan guna mencegah penyebaran pandemi COVID-19.

Hal ini disampaikannya dalam sebuah seminar virtual hari ini (20/7). Di Q1 2020, Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu hanya 2.97 persen dari total PDB dibandingkan periode yang sama tahun lalu 5.07 persen.

Menurutnya, pembukaan kembali kegiatan ekonomi secara bertahap akan membuat ebih sulit untuk bangkit kembali dan akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Ia menambahkan, bahwa kekhawatiran penurunan global yang berkepanjangan telah memberikan tekanan pada aset di negara-negara berkembang.

Dalam keterangan resminya hari ini, BI melaporkan, perkembangan ekonomi Indonesia hingga Juni 2020 menunjukkan perbaikan seiring relaksasi PSBB, meskipun belum kembali kepada level sebelum pandemi COVID-19. Untuk mendorong perekonomian domestik, baru-baru ini bank sentral telah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar ke 3,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar ke level 4,75.

Menurut BI, keputusan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

Baru-baru ini, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jatuh ke level -5,1 persen dari PDB pada Q2. Dikatakannya, tren penurunan ekonomi global bertransmisi dengan cepat ke perekonomian nasional dan menyebabkan gangguan pada sisi permintaan dan penawaran negeri tersebut.

Seperti diketahui, pemerintah menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebagai instrumen utama untuk mengatasi dampak dari epidemi dan untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Menteri Keuangan menilai dampak terdalam dari virus itu terjadi pada bulan Mei dan akan meningkat pada Q3 dan Q4.

Pada akhir tahun ini, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berakhir di kisaran -0,4 persen hingga 2,7 persen dari PDB. pada 2019, ekonomi terbesar di Tenggara itu berakhir di 5,0 persen dari PDB.

“Dengan dinamika yang terjadi di Indonesia pada kuartal kedua, perekonomian kita akan cukup tertekan dan akan ada koreksi dan kita dapat meminimalkannya di kuartal berikutnya,” kata Indrawati saat dengar pendapat dengan Badan Anggaran DPR RI, Juli 9, 2020.

Kementerian Keuangan melaporkan pada semester pertama (1H) tahun 2020 realisasi defisit anggaran sebesar 1,57 persen dari PDB, sejalan dengan penurunan pendapatan negara karena perlambatan ekonomi. Sementara, pengeluaran pemerintah masih tumbuh positif untuk mendukung penanganan dampak COVID-19.

Seperti diberitakan, berbagai lembaga internasional memberikan berbagai proyeksi tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang menunjukkan ketidakpastian yang tinggi, terutama pada tahun 2020. Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi Indonesia sebesar -0,3 persen dan Bank Dunia menyebutkan pertumbuhan nol persen. OECD juga memproyeksikan ekonomi Indonesia berada pada – 3,9 hingga -2,8, sementara Asian Development Bank memproyeksikan -1 persen.

Ditulis oleh Staf Editorial, Email: theinsiderstories@gmail.com