Bank Dunia melihat ekonomi Indonesia tidak akan tumbuh atau nol persen dari produk domestik bruto (PDB), kata ekonom lembaga tersebut hari ini (16/07) - Photo by TheInsiderStories

JAKARTA (TheInsiderStories) – Bank Dunia melihat ekonomi Indonesia tidak akan tumbuh atau nol persen dari produk domestik bruto (PDB), kata ekonom lembaga tersebut hari ini (16/07). Dalam proyeksi terakhir, lembaga keuangan ini optimistis pertumbuhan ekonomi terbesar Tenggara masih positif sebesar 5,0 persen dari PDB.

Tetapi pada tahun 2021, kata Frederico Gil Sander, kepala ekonom dari Bank Dunia Indonesia, negara ini diproyeksikan akan mencatatkan pertumbuhan ekonomi 4,8 persen dan meningkat menjadi 6 persen pada tahun 2022. Dia menyatakan, “Pada kuartal kedua ekonomi Indonesia berkontraksi dan akan berakhir pada nol persen di tahun ini dan pemulihan secara bertahap lambat (di tahun-tahun mendatang). “

Sementara, Satu Kahkonen, Direktur Perwakilan Bank Dunia Indonesia, menilai ekonomi global akan berkontraksi sebesar 5,2 persen dan kawasan Asia Pasifik akan turun tajam hingga hampir 6 persen. Alasannya, hampir semua akan mengunci dan dapat memengaruhi perekonomian negara-negara tersebut.

“Untuk Indonesia, pertumbuhan ekonomi akan turun secara signifikan karena ekonomi Indonesia akan dibuka kembali pada bulan Agustus dan tidak ada gelombang kedua penyebaran COVID-19,” katanya kepada media pada konferensi virtual hari ini.

Kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif 4,3 persen pada kuartal kedua (2Q) tahun 2020. Proyeksi ini lebih dalam dari perkiraan sebelumnya yang memperkirakan kontraksi 3,8 persen. dalam Q1 pertumbuhan ekonomi masih positif 2,97 persen, tingkat pertumbuhan terendah dalam 20 tahun terakhir.

Melihat proyeksi ini, Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam pertemuan dengan para gubernur meminta mereka untuk meningkatkan perekonomian pada kuartal berikutnya. Dia menganggap dalam 3Q 2020 adalah momentum untuk menjaga pertumbuhan ekonomi selama pandemi.

“Momentumnya pada bulan Juli, Agustus, dan September, kuartal ketiga 2020. Jika kita tidak bisa membawanya pada kuartal ketiga, jangan berharap kuartal keempat akan dapat pulih,” kata pemimpin Indonesia itu.

Secara umum, President Jokowi mengingatkan bahwa ekonomi global terus dilanda ketidakpastian. Jika Indonesia menerapkan karantina atau penguncian regional, perekonomian Indonesia akan minus 17 persen. Karena itu, lanjutnya, Indonesia cukup beruntung sehingga tidak mengalami kondisi parah seperti negara lain.

Dia melanjutkan, di tengah pandemi, pengeluaran pemerintah pusat dan daerah akan menjadi landasan untuk mendorong perekonomian yang menyebabkan aliran investasi, baik domestik maupun asing, tidak seperti yang diharapkan. Dia menekankan, ketika investasi tidak bisa diandalkan, hanya pengeluaran pemerintah yang masih bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Untuk alasan ini, Widodo meminta pemerintah daerah untuk mempercepat penggunaan anggaran untuk meningkatkan konsumsi domestik, terutama konsumsi rumah tangga. Berdasarkan data yang dimilikinya, ada dana milik pemerintah daerah di bank sebesar Rp170 triliun yang belum digunakan.

Ekonom, Chatib Basri menyarankan, pemerintah fokus pada perlindungan sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Setelah kembali pulih, lanjutnya, sangat penting bagi pemerintah untuk mendorong permintaan dengan memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat menengah ke bawah.

“Dan juga penting bank sentral mengurangi suku bunga,” katanya.

Ditulis oleh Staf Editorial, Email: theinsiderstories@gmail.com