Home TISIndonesia Alam Sutera Cari Dana Segar Dari Pasar Obligasi AS$485 Juta

Alam Sutera Cari Dana Segar Dari Pasar Obligasi AS$485 Juta

PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) berencana merilis surat utang senior senilai AS$485 juta (Rp6.93 triliun) pada bulan depan - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsidersStories) - Perusahaan pengembang, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) berencana merilis surat utang senior senilai AS$485 juta (Rp6.93 triliun) pada bulan depan. Dana dari hasil penerbitan obligasi ini akan dipakai untuk melunasi kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo tahun ini.

Besaran kupon dari akan akan ditentukan kemudian dan akan diumumkan setelah rapat pemegang saham yang akan dilaksanakan pada 26 Agustus 2020. Obligasi ini memiliki tenor paling cepat tiga tahun dan akan diterbitkan oleh anak usahanya, Alam Synergy Pte. Ltd. yang berkedudukan di Singapura.

Seluruh dana yang didapat dari penerbitan ini akan digunakan untuk melunasi sisa surat utang 2021 dan 2022 termasuk bunga dan biaya yang harus dibayar beserta harga penebusan relevan yang belum lunas. Berdasarkan laporan keuangan Alam Sutera pada 2019, laba bersih perusahaan tumbuh 4,22 persen menjadi Rp1,01 triliun.

Awal tahun ini, Moody’s Investor Service telah menurunkan peringkat perusahaan dari B2 ke B3. Pada saat yang sama, perusahaan global rating ini menurunkan peringkat senior tanpa jaminan yang obligasi yang diterbitkan anak usahanya, Alam Synergy di level yang sama.

Surat utang yang akan jatuh tempo 2021 dan 2022 ini telah dijamin oleh Alam Sutera dan sebagian besar anak perusahaannya. Outlook peringkat di atas tetap negatif.

Penurunan peringkat ke B3 mencerminkan ekspektasi Moody karena pengurangan nilai penjualan tanah milik perusahaan ke China Fortune Land Development Co. Ltd., (CFLD, Ba3 stable), dan risiko refinancing pada obligasi $175 juta pada April 2021 dan $370 juta pada April 2022.

“Prospeknya tetap negatif karena semua hutang perusahaan dalam mata uang Dollar AS akan jatuh tempo pada 2021 dan 2022. Perusahaan ini bergantung pada pendanaan eksternal, tetapi tidak ada komitmen dana untuk mengatasi risiko pembiayaan kembali, ”kata Jacintha Poh, analis dari Moody’s.

Pada tahun 2019, Alam Sutera mencatat penjualan sekitar Rp2,2 triliun dan penjualan tanah ke CFLD sebesar Rp930 miliar, jauh dari target perusahaan sekitar Rp4 triliun. Pada tahun 2020, Alam Sutera menargetkan untuk mencapai penjualan pemasaran inti sekitar Rp3,5 triliun dan penjualan tanah ke CFLD sebesar Rp500 miliar.

Moody’s memperkirakan perusahaan akan menghasilkan sekitar Rp800 miliar tunai dari operasi selama 12 - 18 bulan ke depan, yang tidak akan cukup untuk menutupi pembayaran kembali hutangnya pada 2021. Akibatnya, pengembang bergantung pada pendanaan eksternal untuk mengatasinya.

Perusahaan telah memperoleh persetujuan dari pemegang obligasi untuk mengeluarkan pembiayaan hingga $185 juta pada 28 Januari 2020. Pada saat yang sama, Alam Sutera sedang diskusi dengan bank untuk meningkatkan pinjaman Rupiah.

Didirikan pada November 1993 dengan nama PT Adhihutama Manunggal oleh Harjanto Tirtohadiguno beserta keluarga terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2007. Perusahaan ini adalah pengembang properti terintegrasi di Indonesia yang berfokus pada penjualan tanah sesuai dengan persyaratan perencanaan kota, serta pengembangan properti di segmen perumahan dan komersial di Indonesia.

Perusahaan mengganti nama menjadi Alam Sutera pada 19 September 2007. Perjalanan sebagai perusahaan pengembang properti terkemuka di Indonesia dimulai dengan pembangunan proyek pertama di kawasan terpadu bernama Alam Sutera pada tahun 1994.

Perusahaan memiliki kawasan seluas 800 hektare ini berada di Serpong, Tangerang. Hingga akhir 2016, perseroan telah meluncurkan 37 cluster perumahan dan 2 gedung apartemen. Pada 31 Desember 2019, keluarga Raja Ning memiliki sekitar 47 persen dari perusahaan properti tersebut.

AS$ 1: Rp14.300

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com