Indonesia’s Express Transindo to Issue New Shares worth US$70.42M on Mid-May
Perusahaan pengelola taksi, PT Express Transindo Utama Tbk (IDX: TAXI) melaporkan kondisi terbaru perseroan di tengah pandemi COVID-19 dan beban utang yang melilit perusahaan - Photo by the Company

JAKARTA (TheInsiderStories) – Operator taksi, PT Express Transindo Utama Tbk (IDX: TAXI) mengumumkan gugatan Haji Asma telah mencabut permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada 7 Juli 2020. Hasil ini disepakati dalam sidang

“Pencabutan permohonan PKPU tersebut secara langsung telah ditetapkan Oleh Majelis Hakim Pemeriksa Perkara dalam sidang terbuka untuk umum tanggal 7 Juli,” kata perusahaan dalam keterbukaan informasi pada Kamis (9/7).

Perusahaan yang beroperasi secara komersial sejak April 1989 ini mengalami penghentian dan pembatasan operasional perusahaan sejak penyebaran virus mematikan tersebut, terutama taksi reguler, premium, penyewaan kendaraan dan layanan limusin, dan penghentian operasional pada layanan penyewaan bus di Jakarta – Bekasi – Depok – Tangerang (Jabedetabek).

Yang terbaru, Express telah menerima Surat Panggilan Sidang Perkara Gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada 30 Juni lalu berkaitan dengan permohonan yang diajukan Haji Asma terhadap perseroan yang diterima oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Sidang pertama perkara gugatan PKPU tersebut telah dilakukan pada 2 Juli.

Di tengah tekanan ini, Direktur Utama Taksi Express Transindo, Johannes Triatmojo mengatakan, pihaknya akan melakukan sejumlah strategi untuk memulihkan kondisi perusahaan.

“Hingga kini kondisi penghentian dan atau pembatasan operasional ini masih berlangsung untuk segmen-segmen usaha perusahaan dan entitas anak baik di Jabetabek maupun luar kota,” ujarnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia hari ini (07/06).

Johannes menambahkan, jumlah hutang obligasi Express per Maret 2020 adalah Rp681,9 miliar, merujuk pada laporan keuangan interim perseroan yang disampaikan pada 30 Juni 2020. Sebagian besar kewajiban berupa hutang obligasi Rp549,1 miliar dan bunga tertunggak dan denda Rp90 miliar, hutang pajak Rp5,8 miliar dan utang jangka pendek kepada pihak ketiga sebesar Rp37 miliar.

Tahun lalu, rugi bersih perusahaan milik konglomerat Peter Sondakh ini berkurang 67 persen menjadi Rp275,50 miliar dari periode yang sama tahun 2018 yakni rugi bersih Rp836,37 miliar. Pendapatan perusahaan juga turun drastis 44 persen menjadi Rp134,25 miliar, dari tahun 2018 sebesar Rp241,66 miliar. Beban pokok pendapatan juga berkurang menjadi Rp293,92 miliar dari sebelumnya Rp433,24 miliar.

Ke depan, ujar Johannes, pengelola taxi ini secara konsisten mengupayakan langkah-langkah yang telah dan akan diimplementasikan secara berkelanjutan, di antaranya melanjutkan program pengurangan utang obligasi dengan melego aset non-core dan non-produktif.

Selain itu, melanjutkan program-program efisiensi biaya dan menerapkan kebijakan anggaran yang ketat baik di bagian operasi maupun kantor pusat, melalui penyesuaian jumlah karyawan dan konsolidasi operasi serta penutupan sejumlah pool yang tidak aktif.

Berdasarkan laporan keuangan Express per September 2019, saham perusahaan dipegang oleh Zico Allshores Pte Ltd 18,44 persen, PT Rajawali Corpora 17,81 persen, UOB Kay Hian Pte. Ltd., 15,13 persen, dan investor publik 48,62 persen.

*diperbaharui pada 14.46

Ditulis oleh Staf Editor, Email:theinsiderstories@gmail.com