Rejuve Global Investment Ptd. Ltd., diketahui telah menjadi pemegang saham PT Pyridam Farma Tbk (IDX: PYFA)  setelah mengakuisisi kepemilikan PT Pyridam Internasional - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Rejuve Global Investment Ptd. Ltd., diketahui telah mengakuisisi jadi pemegang saham PT Pyridam Farma Tbk (IDX: PYFA)  setelah mengakuisisi 47,61 persen kepemilikan PT Pyridam Internasional. Setelah transaksi ini, perusahaan asal Singapura ini akan memiliki mayoritas saham perusahaan farmasi tersebut.

Sebelumnya, Pyridam Internasional menguasai 83.80 persen saham perusahaan publik tersebut. Dengan terjadinya transaksi ini kepemilikan perusahaan induk tersebut berkurang menjadi 29,96 persen. Pemegang saham lain adalah PT Starindo Kencana Sejahtera 6,24 persen dan publik 16,19 persen.

Awal pekan ini, data perdagangan Bursa Efek Indonesia mencatat telah terjadi transaksi pertukaran saham Pyridam di pasar negosiasi yang dilakukan oleh PT Aldiracita Corpotama senilai Rp222,14 miliar. Minggu lalu, perseroan sudah melaporkan perubahan kepemilikan Pyridam Internasional dari 53,85 persen menjadi 83,81 persen per 10 Juli 2020.

Pengalihan pertama dari Hasan Tjandra kepada Pyridam Internasional atas 36,80 juta saham. Lalu pengalihan kedua sebanyak 61,74 juta dari Indrawati Kosasih dan pengalihan dari Lindia Kosasih sebanyak 61,74 juta kepada perseroan. Harga per saham dibanderol Rp770,91.

Produsen obat ini didirikan pada 1976 oleh Sarkri Kosasih. Perusahaan kemudian mendapatkan kepercayaan oleh Departemen Pertanian menjadi mitra pada tahun 1994. Pada tahun 1985, ia mendirikan divisi farmasi yang berkembang pesat dan memungkinkan Pyridam membangun pabrik produksi baru di atas lahan 35.000 meter persegi di Cianjur, Jawa Barat. Pabrik tersebut memulai operasinya di April 2001.

Tidak ada keterangan resmi tentang Rejuve Global hanya tercatat sebagai perusahaan yang terdaftar di Singapura ini. Sejak merebaknya virus corona di seluruh dunia potensi perusahaan farmasi berkembang sangat pesat. Banyak negara berlomba-lomba membuat vaksin baru untuk mengatasi virus mematikan tersebut.

Menurut GlobalData, pasar farmasi Indonesia adalah pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara dan diperkirakan akan mencapai nilai AS$10,11 miliar (Rp697.24 triliun) pada tahun 2021. Investasi di sektor farmasi diperkirakan akan mencapai $19,8 miliar selama periode hingga tahun 2025.

Perhitungan ini dengan asumsi bahwa pertumbuhan rata-rata setiap tahunnya 10 persen. Menurut Laporan Econmark Mandiri Group Research, terdapat tiga faktor menjadi pendorong pertumbuhan pasar farmasi domestik yakni besarnya populasi dan tumbuhnya masyarakat kelas menengah yang merupakan pasar potensial untuk produk kesehatan.

Lalu, meningkatnya pendapatan per kapita seiring tumbuhnya perekonomian membuat masyarakat akan semakin peduli dengan kesehatan. Ketiga, adanya program jaminan kesehatan pemerintah juga akan meningkatkan permintaan produk kesehatan.

US$1: Rp14,500

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com