PT Pupuk Indonesia berencana menerbitkan obligasi sebanyak-banyaknya Rp2.5 triliun dalam tahun ini - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories – Produsen pupuk milik negara, PT Pupuk Indonesia berencana menerbitkan obligasi sebanyak-banyaknya Rp2.5 triliun pada tahun ini. Dana dari hasil obligasi ini akan dipakai untuk melunasi sebagian utang perusahaan dan memberikan pinjaman kepada entitas anak perseroan.

Obligasi ini bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan II Pupuk Indonesia dengan target dana total mencapai Rp8 triliun. Surat hutang tersebut terdiri atas tiga seri yakni Seri A bertenor tiga tahun, Seri B jatuh tempo dalam lima tahun, dan Seri C selama tujuh tahun.

Dikatakan, perusahaan membutuhkan dana untuk melunasi sebagian utang obligasi Berkelanjutan yang akan jatuh tempo pada 9 November 2020. Selain itu, perusahaan induk ini berencana mengalokasikan pinjaman kepada dua entitas anak perseroan, PT Petrokimia Gresik dan PT Pupuk Iskandar Muda.

Perseroan sudah menunjuk perusahaan penjamin emisi untuk menangani obligasi ini yakni PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas. Fitch Ratings Indonesia memberikan peringkat AAA yang menandakan rating layak investasi atas obligasi ini.

Adapun masa penawaran awal obligasi tersebut berlangsung pada 15 – 29 Juli 2020. Lalu, penawaran umum pada 13 Agustus 2020 dan perkiraan pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 24 Agustus 2020.

Baru-baru ini pemerintah Indonesia telah menurunkan harga gas industri melalui Peraturan Menteri Nomor 8 Tahun 2020 menjadi AS$6 per mmbtu. Menurut Direktur Utama perseroan, Aas Asikin Idat, penurunan harga gas berdampak positif bagi sektor industri, termasuk industri pupuk.

Kebijakan tersebut memberi manfaat efisiensi yang cukup signifikan terhadap ongkos produksi, yang pada akhirnya mengurangi beban subsidi pemerintah untuk komoditas pupuk.

“Diperkirakan, dalam setahun penghematannya bisa mencapai Rp1,4 triliun jika menghitung berdasarkan tonase subsidi pupuk saat ini yang mencapai 7,9 juta ton. Dampak tersebut cukup signifikan karena komponen biaya gas memiliki porsi mencapai 70 persen dalam struktur biaya produksi,” kata Aas pada 6 Juli lalu.

Mengacu situs resmi perusahaan, Pupuk Indonesia berawal dari pendirian PT Pupuk Sriwidjaja yang didirikan pada 24 Desember 1959. Tahun 1998, Pupuk Sriwidjaja menjadi Perusahaan Induk yang membawahi lima anak perusahaan yakni PT Pupuk Kalimantan Timur, Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang, Pupuk Iskandar Muda, dan PT Mega Eltra.

Kemudian, perusahaan berganti nama menjadi PT Pupuk Indonesia pada 3 April 2012 dan pada 23 Desember 2013 mendirikan anak perusahaan bernama PT Pupuk Indonesia Logistik.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com