Duniatex Group akhirnya lolos dari ancaman pailit setelah berakhirnya Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Semarang pada 26 Juni 2020 - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheInsiderStories) – Perusahaan tekstil, Duniatex Group akhirnya lolos dari ancaman pailit setelah berakhirnya Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Semarang pada 26 Juni 2020. Berdasarkan pengumuman perusahaan hari ini (13/7), perseroan melalui kuasa hukum mengumumkan berakhirnya kasus pailit dari grup tersebut.

Perusahaan yang terlibat di dalamnya adalah PT Delta Merlin Dunia Textile, PT Delta Dunia Tekstil, PT Delta Merlin Sandang Tekstil, PT Delta Dunia Sandang Tekstil, PT Dunia Setia Sandang Asli Tekstil, dan PT Perusahaan Dagang dan Perindustrian Damai.

Pada 26 Juni 2020, Pengadilan Niaga Semarang sudah mengesahkan perjanjian perdamaian antara para debitur dari Duniatex dan kreditor-kreditornya. Dengan begitu, mulai tanggal tersebut, homologasi atau perjanjian perdamaian yang telah disepakati para kreditor mulai berlaku dan perusahaan wajib menjalankan.

Detri Hakim, Corporate Secretary peseroan, mengatakan sebanyak 55 kreditor dengan jaminan yang mewakili tagihan senilai Rp19,15 triliun dan 16 kreditor konkuren (kreditor tanpa jaminan) yang mewakili tagihan senilai Rp247,47 miliar memberikan persetujuan atas rencana perdamaian tersebut. Total tagihan yang diverifikasi oleh tim pengurus dan terdaftar dalam adalah sebesar Rp19.86 triliun yang berasal dari 58 kreditor Separatis dan Rp247.56 miliar dari 17 kreditor konkuren.

Gagal bayar Duniatex ini pertama kali terungkap di media massa pada September tahun lalu. Bersamaan, Fitch Ratings juga menurunkan peringkat utang Delta Merlin Dunia Textile, anak usaha perusahaan, ke ‘CC’ dari sebelumnya ‘CCC’.

Pada saat itu, perusahaan tekstil yang berbasis di Semarang, meminta bursa Singapura untuk sementara menangguhkan perdagangan obligasi AS$300 juta. Alasannya, Delta Merlin Dunia Textile diajukan untuk menjalani kasus Penundaan Kewajiban Utang oleh kreditornya.

PT Shine Golden Bridge telah mengajukan kasus kebangkrutan ke pengadilan Semarang, Jawa Tengah. Anak perusahaan Duniatex ini menerbitkan obligasi senior tanpa jaminan dengan nilai $300 juta yang akan jatuh tempo pada 2024 dengan bunga 8,62 persen. Pada kuartal ketiga 2019, perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar bunga obligasi dan pinjaman bank sekitar Rp450 miliar atau $21,28 juta, tetapi tidak mampu membayar kewajiban ini.

Grup ini terdiri dari 18 perusahaan terbatas, tersebar di beberapa lokasi di lebih dari 150 hektare lahan dan didirikan pada tahun 1974 dengan nama CV. DUNIATEX di Surakarta. Perusahaan beroperasi terutama di industri finishing pada tahun 1988.

Pada tahun 1992, Duniatex mengambil alih PT Damaitex berlokasi di Semarang yang beroperasi di industri finishing. Selanjutnya, Duniatex memperluas operasi tenunnya pada tahun 1998 dengan mendirikan PT Dunia Sandang Abadi dan PT Delta Merlin Dunia Tekstil.

Bersamaan dengan meningkatnya permintaan produk kain, Duniatex melebarkan sayapnya dan membangun Delta Merlin Dunia Tekstil, kini ada di delapan lokasi berbeda di Indonesia.

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com