PT Barito Pacific Tbk (IDX: BRPT) memberikan pinjaman kepada anak usahanya, PT Indo Raya Tenaga (IRT) senilai AS$252,75 juta atau Rp3,61 triliun, dengan tingkat bunga sebesar 6,18 persen per tahun - Photo oleh Perusahaan

JAKARTA (TheinsiderStories) – PT Barito Pacific Tbk (IDX: BRPT) memberikan pinjaman kepada anak usahanya, PT Indo Raya Tenaga (IRT) senilai AS$252,75 juta atau Rp3,61 triliun, dengan tingkat bunga sebesar 6,18 persen per tahun. Ruang lingkup kegiatan IRT meliputi bidang pembangkitan dan penyediaan tenaga listrik.

Menurut perusahaan dalam keterbukaan informasi hari ini (20/7), pinjaman ini diberikan dalam rangka pembangunan dan penyelesaian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berteknologi ultra super critical, dengan kapasitas 2 x 1.000 megawatt (MW) di Suralaya, Banten (Jawa 9 dan 10). Perseroan merencanakan untuk memperoleh fasilitas pinjaman dari Bangkok Bank Public Co. Ltd., sebesar $252,70 juta dengan dengan ternor 60 bulan sejak ditandatanganinya shareholder loan agreement.

Ditambahkan, pemberian pinjaman ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama akan diberikan senilai $183,90 juta dan tahap kedua senilai $68,85 juta. 49 persen saham perusahaan pembangkit dimiliki oleh Barito Pacific dan 51 persen lainnya dimiliki oleh Indonesia Power, anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Pada tahun 2017, IRT dan PLN telah menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) untuk proyek tersebut, termasuk di dalamnya konstruksi PLTU berteknologi ultra super critical dan akan menyediakan listrik selama 25 tahun kepada PLN. Tahun 2018, keduanya memperbaharui PPA tersebut.

Berdasarkan perjanjian terbaru, Indo Raya Tenaga bertanggung jawab untuk perencanaan pembangunan, penyediaan peralatan dan konstruksi pembangkit dan memproduksi listrik yang akan diserahkan kepada PLN. Sebagai gantinya, IRT akan memperoleh hak untuk mendapatkan pendapatan listrik bulanan.

Pendapatan tersebut didasarkan pada harga listrik per unit yang telah ditetapkan selama masa komersial pembangkit dan digaransi dengan skema take or pay. Setelah PPA berakhir, pembangkit listrik akan diserahterimakan kepada PLN.

Dalam rangka pembangunan dan penyelesaian PLTU tersebut, ujar perseroan, Indo Raya Tenaga memerlukan dukungan pendanaan secara proporsional dari induk usaha melalui PT Barito Wahana Lestari dan PT Putra Suralaya Indotenaga, dimana keduanya merupakan pemegang saham IRT dengan kepemilikan masing-maisng 49,00 persen dan 51,00 persen.

Perusahaan didirikan pada tahun 1979 dengan nama PT Bumi Raya Pura Mas Kalimantan. Pada 29 Agustus 2007, perusahaan melakukan perubahan nama menjadi Barito Pacific dengan bisnis di sektor kelistrikan dan petrokimia.

Pada tahun yang sama, Barito memperoleh kepemilikan mayoritas di PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (IDX: CAPC) dan pada tahun 2008 memperoleh PT Tri Polyta Indonesia Tbk, yang kemudian digabungkan pada tahun 2011. CAPC merupakan satu-satunya perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi terpasang saat ini sebesar 3.458 kilo ton per annum.

Pada Juni 2018, Barito Pacific mengakuisisi kepemilikan mayoritas di PT Star Energy, sebuah perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga di dunia, yang mengoperasikan 875 MW kapasitas terpasang panas bumi.

US$1: Rp14,300

Ditulis oleh Staf Editor, Email: theinsiderstories@gmail.com